Showing posts with label Ummi Kulsum. Show all posts
Showing posts with label Ummi Kulsum. Show all posts

Sunday, May 4, 2014

Exploring Argumentative Essay: Kisruhnya Tanah Air



#Class Review

Exploring Argumentative Essay: Kisruhnya Tanah Air



Jum’at, 25 April 2014 kembali menyapa dengan wajah baru setelah beberapa minggu tidak mengisi Class Review. Hanya saja kita masih membahas tentang teks yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” by S. Eben Kirksey. Perjalanan yang cukup menghambat dalam mata kuliah Writing 4 ini serta detik-detik perjalanan menuju puncak dimana kita menunggu hasil akhir setelah mengikuti perjalanan mata kuliah ini. Tak terasa begitu cepatnya proses pembelajaran dalam Writing 4. Begitu banyak cerita suka, duka, senang, canda, tawa serta ilmu pengetahuan yang mulai meluas secara bertahap. Setelah membahas tentang teks tersebut betapa terkejutnya cerita tentang papua yang terkuak dan berliku-liku. Konflik-konflik yang terjadipun sangat terencana yang disebut sebgai “schema global”. Berikut ini beberapa data hasil yang telah didapatkan setelah berdiskusi dengan kelompok, yaitu :

Sunday, April 6, 2014

Hamparan Data Cendrawasih

#Class Review 8
Hamparan Data Cendrawasih

Hasil Note kotor :
Dont’ Use your Data as a Pilllow
Ø  Eca : data adalah sebuah file yang dibuat seseorang untuk kepentingan tertentu.
Ø  Nita : data adalah senuah file yang dibuat seseorang untuk kepentingan atau hasil penelitian.
Ø  Devi : data adalah hasil sebuah penelitian, jangan hanya didiamkan harus lebih bisa menggali lebih dalam lagi.
Ø  Deni : data merupakan hasil penelitian dengan adanya fakta untuk dikembangkan.
Ø  Zulfa : data adalah jhasil observasi
Ø  Ummi : data memang sebagai hasil, data juga harus dikembangkan jangan hanya sebagai sandaran saja.
Kesimpulan : hasil akhir dari penelitian sebagai sandaran harus ada perkembangan yang mengikutinya.
S1 :
Ø  Devi : mengadakan sebuah pesta perpisahan antara papua dan pendatang. Serta memeberikan sebuah kenangan tersendiri, moment untuk seorang penelitian.
Ø  Nita : memperkenalkan budaya.
Ø  Eca : disengaja untuk lebih menghidupkan papua.
Ø  Ummi : dengan diadakannya pesta tersebut, untuk memperkenalakan ciri khas makanan dari papua.
Ø  Zulfa : pesta perpisahan khusus untuk penelitian (tardisional).
Kesimpulan :  jadi, masyarakat papua dengan menyengaja mengadakan pesta perpisahan yang bernuansa papua.


S2 :
Ø  Devi : Deni yomaki mewakili masyarakat papua dalam mengatur pesta.
Ø  Nita : Deni yomaki mewakili masyarakat papua dalam mengatur pesta, dan Deni membantu Eben menyelesaikan sebuah penelitian di Papua.
Ø  Eca : hanya untuk memberikan sebuah kesan pesta pada Eben (moment) kegiatan ini hanya diberikan untuk hasil akhir dari kegiatan si Eben.
Ø  Deni : Deni yomaki membantu memperkenalkan budaya papua, deni yomaki adalah human right worker.
Ø  Ummi : pesta tersebut diatur oleh Deni yomaki dan menunjukkan inilah penyajian makanan yang sederhana atau tidak berlebihan untuk menyambut pesta perpisahan.
Kesimpulan : dengan pesta yang sederhana tetapi mengesankan.
Inilah beberapa hasil diskusi dengan teman-teman. Disini saya bisa melihat bahwa kualitas membaca masih kurang dengan adanya bukti distiap kalimat masih belum memahami sera tidak menyatukan dengan judul dan kalimat pertama dan seterusnya. Seharusnya, setelah kita memahami judul tersebut maka isi dan maksud si penulis pun kita bisa mengetahuinya. Disamping itu juga kita belum mengatahui lebih dalam tentang sejarah Papua. Dari sinilah terlihat cukup sulit untuk memahami setiap kalimat pada teks tersebut. Sedangkan kekuatan, disini belum menonjolkan kekuatan sebagai pembaca. 

Jum’at, 4 April 2014 hari dimana kita bangkit untuk memperjuangkan detik-detik tugas akhir dalam mata kuliah Writing 4. Kembali disibukan dengan membaca buku-buku dan menggali ilmu yang lebih dalam lagi sehingga menemukan ceruk-ceruk baru dalam mempelajari mata kuliah ini. Setelah selang 1 minggu untuk beristirahat dan merefresh otak agar kembali bersemangat dan siap untuk menghadapi tugas akhir ini. Disamping itu, kini terjadi kekecewaan atas pengerjaan tugas yang kurang memuaskan, kita juga belum sepenuhnya menunjukkan kualitas kita sebagai pembaca maupun penuli. Kita hanya pasrah pada tugas-tugas tersebut serta ini mungkin kekhilafan bagi para mahasiswa. Selain itu, kesulitan untuk melihat berkualitas tinggi yang konstan karya yang dihasilkan oleh para mahasiswa dan mempromosikan strategis penulis (dan pembaca) adalah pekerjaan yang nyata. Bergerak di L1-L2 kontinum adalah perjalanan yang nyata. Pergerakan L1-L2 ini sangat sulit untuk diterapkan karena kualitas membaca masih rendah.
Disinilah kita diharapkan untuk lebih bekerja keras agar tugas-tugas yang kita jalani menghasilkan kualitas yang baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Pak Lala. Kerangka kerja yang lebih baik dari kata suci yaitu “Sikap”. Dalam sikap ini, kita harus bisa menunjukkan kualiitas kita sebagai mahasiswa serta mampu menghadapi semua yang akan kita jalan, sikap ini juga menunjukkan apakah kita mampu melewatinya ataukah kita akan mundur dari mata kuliah ini. Penentuan sikap sangatlah penting, jika kita mengerjakan tugas tidak dengan sepenuh hati maka sulitlah untuk menunjukkan kualitas dan literasi yang kita miliki, tetapi ketika kita mau berusaha pasti akan ada hasilnya yang lebih baik. Agar kualitas membaca kita terus meningkat maka yang harus kita lalukan adalah terus menerus membaca (luas dan intensif), selalu berdiskusi di setiap pertemuan jangan hanya sesekali berdiskusi tetapi konstan, agar kita mengasah pengetahuan yang kita dapatkan. Yang diharapkan pada tugas ini adalah :

Inilah yang diharapkan untuk hasil tugas yang lebih memuaskan. Kita harus fokus, berkomitmen dan gigih untuk menjalani semua tugas yang dihadapi karena inilah cara untuk meningkatkan kualitas kita sebagai mahasiswa. Selain itu juga, kita harus tetap bekerjasama dengan baik, kita harus selalu berdiskusi secara konstan karena dengan inilah kita lebih mudah untuk mengetahui wawasan secara meluas. Dalam kegiatan ini terdapat catatan yang kita lakukan, yaitu :
1.      Memahami judulnya baik-baik.
2.      Setelah memahami judul, lalu pahami setiap kalimat.
3.      Lalu, diskusikan di setiap kalimat.
4.      Kesimpulan dari setiap paragraf.
5.      Konteks besar pada teks tersebut.
6.      Poin yang telah disepakati bersama.
7.      Masukkan hasil note tersebut dalam class review.
8.      Kekuatan dan kelemahan kita sebagai pembaca.
Yordan (1997), misalnya, daftar empat belas prosedur berbeda untuk mengumpulkan data kebutuhan, termasuk mahasiswa self-assessment, kelas tes kemajuan dan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya, sementara Brown (tahun 1995 ) menyenaraikan dua puluh empat, mengelompokkan mereka ke dalam enam kategori utama: ada informasi, tes, observasi, wawancara, pertemuan dan angket. Brown (1995) menyenaraikan dua puluh empat, mengelompokkan mereka ke dalam enam kategori utama: ada informasi, tes, observasi, wawancara, pertemuan dan angket. Dengan aneh mengabaikan tawaran, tidak menyebut mengumpulkan dan menganalisa asli teks, sekarang dianggap sebagai sumber utama informasi tentang situasi target. Mungkin yang paling banyak digunakan adalah pendekatan:
·         Angket.
·         Menganalisis otentik berbicara dan menulis teks.
·         Terstruktur wawancara.
·         Pengamatan.
·         Konsultasi Informal dengan fakultas, para peserta didik, EAP guru lain, dll.
·         hasil Assessment.

Dalam praktiknya, telah ada berat atas-ketergantungan pada angket untuk analisis kebutuhan, meskipun dan bukannya terbatas keandalan dan satu dimensi gambar yang jenis data ini menyediakan. Peningkatan Kesadaran tugas yang holistik dalam memandang sebuah fitur dalam konteks tertentu teks asli untuk menunjukkan bagaimana ia digunakan untuk membantu mewujudkan tujuan penulis tertentu. Beberapa pendekatan umum melibatkan perbandingan dan perhatian ke bahasa menggunakan melalui tugas di mana siswa melakukan pendekatan dengan beberapa cara menurut Yohanes (tahun 1997) :
  • Membandingkan berbicara dan menulis mode, seperti sebuah perkuliahan dan buku, untuk meningkatkan kesadaran mengenai cara yang berbeda dalam menanggapi penonton dan tujuan.
  • Daftar cara membaca dan mendengarkan monolog adalah sama dan berbeda.
  • Menyelidiki variasi dalam bidang akademik menulis dengan melaksanakan mini-analisis dari fitur di suatu teks dalam disiplin mereka sendiri dan kemudian membandingkan hasil dengan orang siswa dari bidang lain.
  • Survei nasihat yang diberikan pada sebuah fitur di sebuah contoh dari gaya dan buku panduan dan membandingkan sesungguhnya menggunakan dalam target aliran seperti seorang mahasiswa esai atau penelitian artikel.
  • Menjelajah sejauh mana frekuensi dan menggunakan fitur dapat ditransfer lewat aliran siswa perlu untuk menulis atau berpartisipasi dalam.
  • Mencerminkan pada seberapa jauh fitur sesuai dengan penggunaan mereka di dalam bahasa pertama siswa dan pada sikap mereka ke ekspektasi akademis style dalam kaitannya dengan kebutuhan mereka, dan identitas budaya. 

Friday, March 28, 2014

Divergency of Falsehood

#Critical Review 3
Divergency of Falsehood
INTRODUCTION:
Challenger of world. Radical. Instigator. Those characters are rised by Zinn in his life and his book. This is evidence in the article entitled, “Speaking Truth to Power with Books”. He says that, “I will start by introducing the most crucial issue of all with regard to writing”. This is his way to change the world and also he believes about the importance of books simply by his own experience. Besides that, the long trajectory between writing and changing consciousness, between writing and activism and then affecting public policy, can be tortuous and complicated. But this does not mean we should desist from writing. So, if a book changes somebody’s life by changing somebody’s consciousness, it is going to have an effect on the world, in one way or the other, sooner or later, in ways that you probably cannot trace. Books operate in many ways to change people’s consciousness. It is world of instigator was awful as long as history.

Meneliti Untaian Sejarah

#Class Review 7
Meneliti Untaian Sejarah
“History is important. If you don't know history it is as if you were born yesterday. And if you were born yesterday, anybody up there in a position of power can tell you anything, and you have no way of checking up on it.”
Howard Zinn

Jum’at, 21 Maret 2014. Senja di pagi hari sangatlah elok, begitu cerah menerangi keindahan di pagi hari. Setelah lama menjalani kuliah, telah mengukir sejarah-sejarah yang begitu indah. Saat inipun masih ada jejak-jejak untuk menciptakan sejarah yang harus di lalui dengan penuh rintangan yang cukup sulit di lalui, terkadang melewati arus jeram ataupun melewati berbagai tikungan, ini tak menghalangi untuk selalu berusaha.

Sunday, March 23, 2014

Chrysalis Ideologi



#Class Review 6
Chrysalis Ideologi
Jum’at, 14 Maret 2014 hari yang sungguh mengejutkan ketika di pagi buta telah memulai mata kuliah dengan cuaca yang bergelumur kabut dan begitu terasa sejuknya. Pagi itu, udara sejuk terasa di sekujur tubuh serta hembusan angin sepoi-sepoi yang begitu terasa dinginnya. Walaupun dengan cuaca dan keadaan seperti itu, hal ini tak menghalangi untuk melanjutkan mata kuliah Writing and Composition 4. Indahnya mengukir sejarah yang tak pernah dilupakan selama hidup di dunia ini. Pengalaman yang benar-benar mengesankan serta apapun yang dihadapi tak semulus jalan yang lurus tetapi selalu menemukan tikungan-tikungan yang tajam. Dalam tikungan inilah pengalaman yang sangat mengesankan karena hal ini dilakukan dengan sungguh-sungguh serta membutuhkan perjuangan yang luar biasa untuk mendapatkan hasil yang baik.
Selama perkuliahan mata kuliah ini masih membahas tentang Colombus. Kita akan mengupas tuntas tentang sejarah karena sejarah merupakan hal yang sangat penting untuk di ketahui, terutama seluruh dunia telah mengetahui tentang Colombus adalah penemu Benua Amerika. Tetapi disamping itu, terdapat seorang sejarawan yang berani mengungkapkan bahwa Colombus adalah bukan penemu Benua Amerika yang sesungguhnya. Seorang sejarawan yaitu Howard Zinn, mengapa beliau mengatakan seperti itu? Karena beliau memiliki bukti-bukti dalam karya bukunya yang berjudul “A People’s History of the United States” yaitu bahwa Colmbus hanyalah seseorang yang ingin pergi berlayar karena ia berniat jahat untuk memperkosa para wanita, membunuh dan lainnya. Ini adalah salah satu fakta yang di ungkapkan oleh Howard Zinn, sebenarnya apa tujuan beliau untuk mengungkapkan fakta sejarah tentang Colombus? Tujuan Zinn adalah untuk memberikan pandangan alternatif dan untuk membuat pembaca menganggap secara kritis tentang "resmi" versi kisah serta dugaan netral dari buku. Untuk menganggap bahwa para pembaca Zinn tidak memahami dimana ia akan datang dari atau tidak dapat membaca pekerjaannya secara kritis adalah menggurui. inilah beberapa catatan yang perlu kita tahu, bukan hanya tentang Colombus tetapi tentang penulisnya juga yang menceritakan bahwa Colombus bukan penemu benua biru yaitu Howard Zinn.
Selain itu, seperti biasanya Mr.Lala memberikan materi kepada kita semua dengan judul yang baru dalam pertemuan keenam ini “Strengthening Thesis Statement: Another journey in understang Columbusyaitu terdapat kutipan yang mencerahkan bagi mahasiswa ketika di pagi hari itu :
“Katanya, tugas mereka yang tercerahkan--kaum literat--adalah meneroka ceruk ceruk 'baru' tempat pengetahuan dan keterampilan yang mereka pungut, kumpulkan dan kuasai dalam perjalanan hidupnya sebagai bagian sederhana dari cinta mereka pada pengetahuan dan pemberi pengetahuan. Mereka yang hanya baru tahu teori ini dan itu dari 'suara-suara penuh kuasa' di bidang yang mereka geluti, belumlah dapat dikatakan yang tercerahkan--literat; mereka baru pada fase awal; peniru.
Meniru adalah bagian penting dari menemukan lalu menciptakan, dari memahami affordance dan meaning potential tanda tanda yang terserak, yang dibaca dengan teori ini dan itu. Yang berbahaya adalah ketika kita merasa sudah mendesiminasi, pun meneroka padang-padang baru tempat segala teori yang dipahami digunakan, padahal kita baru sampai pada tahap meniru. Lalu kita dengan pongahnya mengatakan 'ini salah itu tak benar", tanpa dasar yang 'tak bergetar' pada mereka yang berada di titik awal menjadi peniru. Kita merasa bahwa hapal saja teori ini dan itu, telah membuat kita menjadi bagian dari "Rejim kebenaran tak terbantahkan".
Begitu banyak yang harus dipelajari, dipahami lalu dimaknai; lebih banyak dari alasan menjadi sombong sebab apa yang baru kita sedikit ketahui.”
 -Mr.Lala-
Ideologi adalah istilah kunci dalam sastra, budaya, dan studi. Pemahaman saat ini istilah Ideologi berakar dalam tulisan-tulisan filsuf Jerman Karl Marx dan Friedrich Engels. Menurut Fowler (tahun 1991) dan Fairclough (tahun 1995), sedangkan fungsi ideational merujuk kepada pengalaman para pembicara di dunia dan fenomena, yang merupakan perwujudan fungsi interpersonal yang memasukkan para pembicara sendiri sikap dan evaluasi tentang fenomena alam dalam pertanyaan, dan membangun hubungan antara para pembicara dan para pendengar. Ini penting kepada dua fungsi ini adalah fungsi tekstual. Ini adalah melalui tekstual fungsi bahasa pembicara yang mampu menghasilkan teks yang dipahami oleh para pendengar. Ini adalah fungsi yang memungkinkan menghubungkan wacana untuk ko-teks dan con-teks dalam mana ia terjadi.
Van Dijk (tahun 1995 ) pada dasarnya mengesani wacana analisis sebagai ideologi analisis, karena menurut dia "ideologi biasanya walaupun tidak eksklusif, mengungkapkan dan dilahirkan di dalam wacana dan komunikasi, termasuk non-verbal Hermeneutik pesan seperti gambar, foto dan film" (ms.  17).  Pendekatan-Nya untuk menganalisis ideologi memiliki tiga bagian: analisis sosial, analisis kognitif, dan wacana analisis (tahun 1995, 30 ).
Sedangkan analisis sosial berkaitan untuk mengkaji "secara keseluruhan struktur sosial," (konteks), wacana analisis terutama berbasis teks (sintaks, Lexicon, soal semantik lokal, topik, berbentuk skematik struktur, dsb. ).  Dalam pengertian ini, van Dijk pendekatan menggabungkan dua pendekatan secara tradisional dalam media pendidikan dibahas sebelumnya: interpretatif (teks) dan tradisi sosial (konteks berdasarkan), ke dalam satu analytical framework untuk menganalisis media wacana. Namun, apa yang jelas membedakan van Dijk pendekatan lain dari pendekatan dalam CDA adalah ciri lain dari pendekatan-nya: kognitif analisis.
Dalam pengertian ini, untuk van Dijk, "ideologi ... adalah secara keseluruhan, abstrak mental sistem yang mengatur ... sosial sikap bersama" (p.18).  Ideologi, oleh itu, "tidak langsung mempengaruhi pribadi kognitif anggota grup" dalam perbuatan mereka dari pemahaman dari wacana di antara tindakan lainnya dan interaksi (p.19 ).  Dia memanggil mental representasi dari individu selama sosial seperti tindakan dan interaksi "model" .Untuk dia, "model mengontrol bagaimana orang-orang bertindak, berbicara atau menulis, atau bagaimana mereka memahami praktik sosial dari orang lain" (ms.  2).  Sangat penting di sini adalah bahawa, menurut van Dijk, mental representasi "sering artikulasi bersama kami versus mereka dimensi, di mana para pembicara di salah satu grup akan secara umum cenderung untuk menampilkan diri atau kelompok sendiri dalam istilah positif, dan kelompok lain dalam istilah negatif" (p.22).
Kutipan yang menarik menurut Mr.Lala dan harus di jaga ataupun dipelihara dalam pikiran kita :

¡  Fowler (1996: 10): “Like the historian critical linguist aims to understand the values which underpin social, economic, and political formations, and diachronically, changes in values and changes in formaitons.
¡  Fowler (1996: 12): “Ideology is of course both a medium and an instrument of historical processes.”
¡  Ideology is omnipresent in every single text (spoken, written, audio, visual or the combinations of all of them) (Fowler 1996)
¡  Text productions is never neutral! (Fairclough 1989; 1992; 1995; 2000; Lehtonen 2000)
¡  Literacy is NEVER neutral (Alwasilah 2001; 2012)
¡  Therefore, reading and writing is always ideologically motivated
¡  Writing in college often takes the form of persuasion—convincing others that you have an interesting, logical point of view on the subject you are studying.
¡  Persuasion is a skill you practice regularly in your daily life.
¡  In college, course assignments often ask you to make a persuasive case in writing.
Ideologi ini akan memberikan warna dalam writing dan ideologi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Karena “reading and writing is alway ideologically motivated.” Disamping itu, cara untuk memahami baca tulis ini dengan cara “Values”, yang memiliki dua sets of building yaitu medium dan instrument.
Disini, kita sedang menjajaki ceruk-ceruk baru dalam perjalanan mata kuliah Writing and Composition, kita baru dalam tahapan meniru, lalu menemukan dan menciptakan tulisan. Dari sinilah kita membutuhkan daya baca yang tinggi. Hanya orang-orang literatlah yang menguasai affordance dan meaning potential. Seperti halnya, kita masih dalam tahapan “Chrysalis” atau tahap-tahap perkembangan atau pertumbuhan dimana untuk menjadi reader dan writer harus mempunyai daya baca yang tinggi, ceruk-ceruk baru yang telah kita temukan adalah sebagai simbol tahap awal untuk menuju ke tahap create hal-hal yang baru.
Ideologi ini adalah intisari 'kenyataan'. Konsepsi yang berbeda dari ideologi adalah dirumuskan oleh Louis Althusser. Althusser 'ideologi' tidak sebuah versi dari realitas, tetapi suatu gambaran individu yang berhubungan dengan masyarakat. Kenyataannya, kebenaran dan yang batil tidak aspek dari ideologi ini, tetapi ia adalah sebuah organisasi menyatakan praktik yang membentuk perihal sosial. Ada suatu analogi dengan sastra teks di sini, atau sekurang-kurangnya satu konsepsi sastra teks. Sebagai Eagleton menjelaskan:
Salah Satu mungkin berkata bahwa ideologi. Kurang hal usul dari 'pseudo-usul'.  Ia cukup sering muncul di permukaan tatabahasa akan referensial (deskriptif dari negara urusan) sementara yang diam 'emotif' (ekspresif dari kenyataan hidup manusia dari mata pelajaran) atau 'conative' (diarahkan ke arah pencapaian dari efek tertentu).  Jika demikian, maka ia akan tampak bahwa ada semacam slipperiness atau sikap bermuka dua dibangun ke dalam bahasa ideologis, dan bukannya dari jenis yang Immanuel Kant mengira bahwa ia telah ditemukan dalam sifat estetika peradilan. Ideologi, Althusser klaim, 'mengungkapkan yang akan, sebuah harapan atau nostalgia, dan bukannya menjelaskan kenyataan', yang pada dasarnya adalah sebuah hal rasa takut dan mencela, reverencing dan caci maki, semua yang kemudian kadang mendapat dikodekan ke dalam sebuah wacana yang kelihatan seolah-olah ia menggambarkan cara sesuatu sebenarnya.(Eagleton tahun 1991: 19 ). Ideologi di sini adalah sesuatu yang subjektif tergelincir ke dalam wacana dan berlagak untuk menggambarkan kenyataan. Pada sebuah makro, sastra itu sendiri dapat dilihat sebagai sebuah contoh dari 'ideologi'; pada tingkat mikro, teks sastra dapat dilihat untuk berisi ideologi dalam cara yang sama seperti semua wacana. Ideologi, kemudian, mungkin lebih luas tertanam dalam ideologi tertentu: ideologi tertentu, misalnya, tertanam dalam makro-ideologi 'literatur'.  Althusser dirinya tidak membuat perbezaan antara ideologi ini, lebih memilih untuk mengatur istilah 'ideologi' dalam oposisi global untuk 'ilmu pengetahuan'; tetapi mungkin akan bermanfaat dalam penggambaran sastra dan analisa teks.
 Selanjutnya pembahasan tentang buku Roger Fowler. Terdapat tiga representasi dari bahasa yang merujuk kepada karya dari para cendekiawan yang komitmennya untuk bahasa dan memang tidak dinafikan secara substansial, yaitu :

  1. Yang pertama adalah sikap yang bermasalah yang menganggap bahasa dalam literatur sebagai obyek.   
  2.  Kedua sikap tidak membantu untuk bahasa yang memperlakukan mereka sebagai medium melalui literatur yang akan ditransmisikan. 
  3. Implicit apa yang telah dikatakan menurut Roger Fowler: "saya adalah keengganan untuk menerima satu andaian lebih lanjut tentang bahasa yang tersebar luas di stylistics dan kritik.


Jadi linguistik kritikus, seperti biasa atau Maha Mendengarlagi Maha pembaca, tidak dapat hanya mengakui linguistik struktur dan konsultasi pragmatie kompetensi-nya, menetapkan kepentingan. Pandangan yang lebih realistis linguistik dari interaksi adalah proses yang kita teks ini sebagai wacana, yang, sebagai sebuah kesatuan teks dan konteks -daripada sebagai struktur dengan fungsi terpasang.

Friday, March 14, 2014

Penggagas Mutu Critical Review

#Class Review 5

Penggagas Mutu Critical Review
Literacy  is  the  use  of  socially-,  and  historically-,  and  culturally-situated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least  a  tacit  awareness  of  the  relationships  between  textual  conventions and  their  context  of  use  and,  ideally,  the  ability  to  reflect  critically  on those relationships. Because it is purpose-sensitive, literacy is dynamic – not  static    and  variable  across  and  within  discourse  communities  and cultures. It draws on a wide range of cognitive abilities, on knowledge of written  and  spoken  language,  on  knowledge  of  genres,  and  on  cultural knowledge. Kern (2000)
Udara sejuk di pagi hari begitu dirasakan kembali saat kaki ini memulai untuk perjalanan mencari ilmu. Tepatnya pada hari Jum’at, 7 Maret 2014 di Kampus tercinta IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Detik waktu terus berjalan melewati suka dan duka ketika memulai mata kuliah “Writing and Composition 4”. Perjalanan ini begitu pelik dan berliku seperti jalan yang penuh tikungan yang tiada hentinya. Satu titik dimana membutuhkan kekuatan serta semangat yang tinggi untuk melewati berbagai cengkaman dalam menjalani kehidupan yang lebih dewasa.

Friday, March 7, 2014

Pelopor Budaya Kelas



#Class Review 4 
Pelopor Budaya Kelas
 
Cuaca di pagi hari, begitu sejuk dan mendukung aktivitas terutama untuk seorang mahasiswa. Inilah hari pertama, dimana memulai untuk mencari ilmu lebih awal dibandingkan dengan mahasiswa lainnnya. Pukul 06.30, kaki mulai berjalan untuk memasuki gerbang dimana memulai untuk meniti kehidupan yang lebih bermanfaat serta melatih kedisiplinan sebagai mahasiswa maupun dosennya. Hal ini adalah salah satu untuk membangun kualitas kampus serta lebih mengetahui betapa pentingnya kualitas kampus ini, bukan hanya dari segi ilmu yang kita dapatkan tetapi juga membangun jiwa karakter mahasiswa untuk lebih baik.
Atmosfir kelas begitu mengharukan, ketika Mr. Lala menunjukkan sebuah kata-kata mutiara yang beliau dapatkan dari dosennya, yaitu :

Thursday, March 6, 2014

Fakta yang Terselubung


Fakta yang Terselubung
Buku adalah jendela dunia, banyak orang-orang yang mengatakannya. Dengan membaca buku kita bisa melihat keluar, sesuatu yang baru atau pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di rumah kita. Yang dimaksud rumah adalah pikiran kita saat ini. Sebagian orang mengatakan bahwa dengan membaca sebuah buku berarti kita membuka cakrawala. Dengan membaca buku juga kita menyelami dunia lain, yaitu sebuah dunia yang ada di dalam pikiran orang lain. Sementara setiap orang memiliki dunia masing-masing. Dengan membaca buku kita akan menyelami berbagai dunia orang lain yang akan memberikan kita kebijaksanaan yang lebih mendalam dalam menghadapi hidup. Seperti dalam buku Howard Zinn yang berjudul, “Speaking Truth to Power with Book.” Beliau mengatakan dalam bukunya bahwa buku bisa mempengaruhi pembaca serta bisa merubah hidup seseorang dengan kesadarannya, inilah yang akan menjadi efek pada dunia bahwa buku beropersi banyak cara untuk mengubah kesadaran di masyarakat.

Saturday, March 1, 2014

Metaforma Literasi



class review 3:

Metaforma Literasi
Hujan begitu deras, ketika itu keadaan dan situasi di pagi hari sangat tidak mendukung. Seiring berjalannya waktu, ku tetap bersemangat untuk mengikuti mata kuliah “Writing and Composition 4” hingga usai pembelajaran. Walaupun keadaan cuaca yang ekstrim ini, mata kuliah tersebut berjalan dengan lancar. Serta walaupun ada halangan maupun rintangan untuk menjalaninya, hal ini tidaklah menjadi beban pikiran yang berat. Inilah kehidupan yang ku jalani demi menggapai suatu kesuksesan.

Thursday, February 27, 2014

Religious Harmony : Panglima menciptakan Keharmonisan, Bangsa Membuka Jendela Dunia

Critical Review:


Religious Harmony : Panglima menciptakan Keharmonisan, Bangsa Membuka Jendela Dunia
Teringat dengan sebuah Beatboxer, perpaduan musik yang berasal dari mulut manusia yang berbeda sehingga menghasilkan musik yang seirama. Dari perbedaan itu bisa menghasilkan suatu karya musik yang luar biasa dengan alunan nada yang begitu cepat tetapi menghasilkan nada yang unik dan tidak berbeda jauh dengan alat musik yang lainnya. Begitupun dengan bangsa kita yang berbeda budaya, suku, ras, bahasa, agama ataupun kebiasaan tetapi dengan perbedaan itu, tidaklah menjadi suatu perkara yang besar hingga merusak bangsa kita sendiri. Jika musik Beatbox bisa menjadi satu dan menghasilkan karya musik yang unik, mengapa kita sebagai makhluk hidup tidak menjadikan perbedaan itu menjadi satu kesatuan sehingga bisa menghasilkan sebuah karya yang luar biasa? Bangsa kita cukup sulit untuk mempersatukan sebuah perbedaan tersebut, untuk mempersatukannya hanyalah kesadaran dalam benak, jiwa mapun raga kita. Untuk itu, seharusnya bangsa kita menyampingkan semua bentuk ego, vested interests (mengharapkan keuntungan pribadi), dan kesombongan demi kemajuan sistem pendidikan. Bangsa kita juga harus siap mengatasi semua rintangan, menghadapi semua resiko, dan berkorban, demi kemajuan pendidikan. Misi utama bangsa ini adalah memberikan pendidikan yang terbaik, dan menghantarkan bangsa kita ke masa depan yang lebih baik. “The task of the leader,” kata  Henry A. Kissinger, “is to get his people from where they are to where they have not been.”