Showing posts with label Ummi Kulsum. Show all posts
Showing posts with label Ummi Kulsum. Show all posts
Sunday, May 4, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
Exploring Argumentative Essay: Kisruhnya Tanah Air
#Class Review
Exploring Argumentative Essay: Kisruhnya Tanah Air
Jum’at, 25 April 2014
kembali menyapa dengan wajah baru setelah beberapa minggu tidak mengisi Class
Review. Hanya saja kita masih membahas tentang teks yang berjudul “Don’t Use
Your Data as a Pillow” by S. Eben Kirksey.
Perjalanan yang cukup menghambat dalam mata kuliah Writing 4 ini serta
detik-detik perjalanan menuju puncak dimana kita menunggu hasil akhir setelah
mengikuti perjalanan mata kuliah ini. Tak terasa begitu cepatnya proses
pembelajaran dalam Writing 4. Begitu banyak cerita suka, duka, senang, canda,
tawa serta ilmu pengetahuan yang mulai meluas secara bertahap. Setelah membahas
tentang teks tersebut betapa terkejutnya cerita tentang papua yang terkuak dan
berliku-liku. Konflik-konflik yang terjadipun sangat terencana yang disebut
sebgai “schema global”. Berikut ini beberapa data hasil yang telah didapatkan
setelah berdiskusi dengan kelompok, yaitu :
Sunday, April 6, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
#Class Review 8
Hamparan Data Cendrawasih
Hasil Note kotor :
Dont’ Use your
Data as a Pilllow
Ø
Eca : data adalah sebuah file yang dibuat
seseorang untuk kepentingan tertentu.
Ø
Nita : data adalah senuah file yang dibuat
seseorang untuk kepentingan atau hasil penelitian.
Ø
Devi : data adalah hasil sebuah penelitian,
jangan hanya didiamkan harus lebih bisa menggali lebih dalam lagi.
Ø
Deni : data merupakan hasil penelitian dengan
adanya fakta untuk dikembangkan.
Ø
Zulfa : data adalah jhasil observasi
Ø
Ummi : data memang sebagai hasil, data juga
harus dikembangkan jangan hanya sebagai sandaran saja.
Kesimpulan : hasil akhir
dari penelitian sebagai sandaran harus ada perkembangan yang mengikutinya.
S1 :
Ø
Devi : mengadakan sebuah pesta perpisahan antara
papua dan pendatang. Serta memeberikan sebuah kenangan tersendiri, moment untuk
seorang penelitian.
Ø
Nita : memperkenalkan budaya.
Ø
Eca : disengaja untuk lebih menghidupkan papua.
Ø
Ummi : dengan diadakannya pesta tersebut, untuk
memperkenalakan ciri khas makanan dari papua.
Ø
Zulfa : pesta perpisahan khusus untuk penelitian
(tardisional).
Kesimpulan : jadi, masyarakat papua dengan menyengaja
mengadakan pesta perpisahan yang bernuansa papua.
S2 :
Ø
Devi : Deni yomaki mewakili masyarakat papua
dalam mengatur pesta.
Ø
Nita : Deni yomaki mewakili masyarakat papua
dalam mengatur pesta, dan Deni membantu Eben menyelesaikan sebuah penelitian di
Papua.
Ø
Eca : hanya untuk memberikan sebuah kesan pesta
pada Eben (moment) kegiatan ini hanya diberikan untuk hasil akhir dari kegiatan
si Eben.
Ø
Deni : Deni yomaki membantu memperkenalkan budaya
papua, deni yomaki adalah human right worker.
Ø
Ummi : pesta tersebut diatur oleh Deni yomaki
dan menunjukkan inilah penyajian makanan yang sederhana atau tidak berlebihan
untuk menyambut pesta perpisahan.
Kesimpulan : dengan pesta
yang sederhana tetapi mengesankan.
Inilah beberapa hasil diskusi dengan teman-teman. Disini saya bisa melihat
bahwa kualitas membaca masih kurang dengan adanya bukti distiap kalimat masih
belum memahami sera tidak menyatukan dengan judul dan kalimat pertama dan
seterusnya. Seharusnya, setelah kita memahami judul tersebut maka isi dan
maksud si penulis pun kita bisa mengetahuinya. Disamping itu juga kita belum
mengatahui lebih dalam tentang sejarah Papua. Dari sinilah terlihat cukup sulit
untuk memahami setiap kalimat pada teks tersebut. Sedangkan kekuatan, disini
belum menonjolkan kekuatan sebagai pembaca.
Jum’at, 4 April
2014 hari dimana kita bangkit untuk memperjuangkan detik-detik tugas akhir
dalam mata kuliah Writing 4. Kembali disibukan dengan membaca buku-buku dan
menggali ilmu yang lebih dalam lagi sehingga menemukan ceruk-ceruk baru dalam
mempelajari mata kuliah ini. Setelah selang 1 minggu untuk beristirahat dan
merefresh otak agar kembali bersemangat dan siap untuk menghadapi tugas akhir
ini. Disamping itu, kini terjadi kekecewaan atas pengerjaan tugas yang kurang
memuaskan, kita juga belum sepenuhnya menunjukkan kualitas kita sebagai pembaca
maupun penuli. Kita hanya pasrah pada tugas-tugas tersebut serta ini mungkin
kekhilafan bagi para mahasiswa. Selain itu, kesulitan untuk melihat berkualitas
tinggi yang konstan karya yang dihasilkan oleh para mahasiswa dan mempromosikan
strategis penulis (dan pembaca) adalah pekerjaan yang nyata. Bergerak di L1-L2 kontinum adalah perjalanan
yang nyata. Pergerakan L1-L2 ini sangat sulit untuk diterapkan karena kualitas
membaca masih rendah.
Disinilah kita diharapkan untuk lebih bekerja keras agar tugas-tugas yang
kita jalani menghasilkan kualitas yang baik dan sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh Pak Lala. Kerangka kerja yang lebih baik dari kata suci yaitu “Sikap”.
Dalam sikap ini, kita harus bisa menunjukkan kualiitas kita sebagai mahasiswa
serta mampu menghadapi semua yang akan kita jalan, sikap ini juga menunjukkan
apakah kita mampu melewatinya ataukah kita akan mundur dari mata kuliah ini.
Penentuan sikap sangatlah penting, jika kita mengerjakan tugas tidak dengan
sepenuh hati maka sulitlah untuk menunjukkan kualitas dan literasi yang kita
miliki, tetapi ketika kita mau berusaha pasti akan ada hasilnya yang lebih
baik. Agar kualitas membaca kita terus meningkat maka yang harus kita lalukan adalah terus menerus membaca
(luas dan intensif), selalu berdiskusi di setiap pertemuan jangan hanya
sesekali berdiskusi tetapi konstan, agar kita mengasah pengetahuan yang kita
dapatkan. Yang diharapkan pada tugas ini adalah :

Inilah yang diharapkan untuk hasil tugas yang lebih memuaskan. Kita harus
fokus, berkomitmen dan gigih untuk menjalani semua tugas yang dihadapi karena
inilah cara untuk meningkatkan kualitas kita sebagai mahasiswa. Selain itu
juga, kita harus tetap bekerjasama dengan baik, kita harus selalu berdiskusi
secara konstan karena dengan inilah kita lebih mudah untuk mengetahui wawasan
secara meluas. Dalam kegiatan ini terdapat catatan yang kita lakukan, yaitu :
1. Memahami judulnya baik-baik.
2. Setelah memahami judul, lalu pahami setiap
kalimat.
3. Lalu, diskusikan di setiap kalimat.
4. Kesimpulan dari setiap paragraf.
5. Konteks besar pada teks tersebut.
6. Poin yang telah disepakati bersama.
7. Masukkan hasil note tersebut dalam class
review.
8. Kekuatan dan kelemahan kita sebagai pembaca.
Yordan (1997), misalnya, daftar empat belas prosedur berbeda
untuk mengumpulkan data kebutuhan, termasuk mahasiswa self-assessment, kelas
tes kemajuan dan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya, sementara Brown
(tahun 1995 ) menyenaraikan dua puluh empat, mengelompokkan mereka ke dalam
enam kategori utama: ada informasi, tes, observasi, wawancara, pertemuan dan angket. Brown (1995) menyenaraikan dua puluh
empat, mengelompokkan mereka ke dalam enam kategori utama: ada informasi, tes,
observasi, wawancara, pertemuan dan angket. Dengan aneh mengabaikan tawaran,
tidak menyebut mengumpulkan dan menganalisa asli teks, sekarang dianggap sebagai sumber utama informasi
tentang situasi target. Mungkin yang paling banyak digunakan adalah pendekatan:
·
Angket.
·
Menganalisis otentik berbicara dan menulis teks.
·
Terstruktur wawancara.
·
Pengamatan.
·
Konsultasi Informal dengan fakultas, para
peserta didik, EAP guru lain, dll.
·
hasil Assessment.
Dalam praktiknya, telah
ada berat atas-ketergantungan pada angket untuk analisis kebutuhan, meskipun
dan bukannya terbatas keandalan dan satu dimensi gambar yang jenis data ini
menyediakan. Peningkatan Kesadaran tugas yang holistik dalam memandang sebuah
fitur dalam konteks tertentu teks asli untuk menunjukkan bagaimana ia digunakan
untuk membantu mewujudkan tujuan penulis tertentu. Beberapa pendekatan umum
melibatkan perbandingan dan perhatian ke bahasa menggunakan melalui tugas di
mana siswa melakukan pendekatan dengan beberapa cara menurut Yohanes (tahun 1997) :
- Membandingkan berbicara dan menulis mode, seperti sebuah perkuliahan dan buku, untuk meningkatkan kesadaran mengenai cara yang berbeda dalam menanggapi penonton dan tujuan.
- Daftar cara membaca dan mendengarkan monolog adalah sama dan berbeda.
- Menyelidiki variasi dalam bidang akademik menulis dengan melaksanakan mini-analisis dari fitur di suatu teks dalam disiplin mereka sendiri dan kemudian membandingkan hasil dengan orang siswa dari bidang lain.
- Survei nasihat yang diberikan pada sebuah fitur di sebuah contoh dari gaya dan buku panduan dan membandingkan sesungguhnya menggunakan dalam target aliran seperti seorang mahasiswa esai atau penelitian artikel.
- Menjelajah sejauh mana frekuensi dan menggunakan fitur dapat ditransfer lewat aliran siswa perlu untuk menulis atau berpartisipasi dalam.
- Mencerminkan pada seberapa jauh fitur sesuai dengan penggunaan mereka di dalam bahasa pertama siswa dan pada sikap mereka ke ekspektasi akademis style dalam kaitannya dengan kebutuhan mereka, dan identitas budaya.
Friday, March 28, 2014
Created By:
#Progress Test 2,
Ummi Kulsum
#Critical Review 3
Divergency of Falsehood
INTRODUCTION:
Challenger of world.
Radical. Instigator. Those characters are rised by Zinn in his life and his book. This is
evidence in the article entitled, “Speaking
Truth to Power with Books”. He says that, “I will start by introducing the most
crucial issue of all with regard to writing”. This is his way to change the
world and also he believes about the importance of books simply by his own
experience. Besides
that, the long trajectory between writing and changing consciousness, between
writing and activism and then affecting public policy, can be tortuous and
complicated. But this does not mean we should desist from writing. So, if a
book changes somebody’s life by changing somebody’s consciousness, it is going
to have an effect on the world, in one way or the other, sooner or later, in
ways that you probably cannot trace. Books operate in many ways to change
people’s consciousness. It
is world of instigator was awful as long as history.
Created By:
Ummi Kulsum
#Class Review 7
Meneliti Untaian Sejarah
“History is
important. If you don't know history it is as if you were born yesterday. And
if you were born yesterday, anybody up there in a position of power can tell
you anything, and you have no way of checking up on it.”
― Howard Zinn
― Howard Zinn
Jum’at, 21 Maret 2014. Senja di pagi hari sangatlah
elok, begitu cerah menerangi keindahan di pagi hari. Setelah lama menjalani
kuliah, telah mengukir sejarah-sejarah yang begitu indah. Saat inipun masih ada
jejak-jejak untuk menciptakan sejarah yang harus di lalui dengan penuh
rintangan yang cukup sulit di lalui, terkadang melewati arus jeram ataupun
melewati berbagai tikungan, ini tak menghalangi untuk selalu berusaha.
Sunday, March 23, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
#Class Review 6
Chrysalis Ideologi
Jum’at, 14 Maret 2014 hari yang sungguh mengejutkan ketika di pagi buta
telah memulai mata kuliah dengan cuaca yang bergelumur kabut dan begitu terasa
sejuknya. Pagi itu, udara sejuk terasa di sekujur tubuh serta hembusan angin
sepoi-sepoi yang begitu terasa dinginnya. Walaupun dengan cuaca dan keadaan
seperti itu, hal ini tak menghalangi untuk melanjutkan mata kuliah Writing and
Composition 4. Indahnya mengukir sejarah yang tak pernah dilupakan selama hidup
di dunia ini. Pengalaman yang benar-benar mengesankan serta apapun yang
dihadapi tak semulus jalan yang lurus tetapi selalu menemukan tikungan-tikungan
yang tajam. Dalam tikungan inilah pengalaman yang sangat mengesankan karena hal
ini dilakukan dengan sungguh-sungguh serta membutuhkan perjuangan yang luar
biasa untuk mendapatkan hasil yang baik.
Selama perkuliahan mata kuliah ini masih membahas tentang Colombus. Kita
akan mengupas tuntas tentang sejarah karena sejarah merupakan hal yang sangat
penting untuk di ketahui, terutama seluruh dunia telah mengetahui tentang
Colombus adalah penemu Benua Amerika. Tetapi disamping itu, terdapat seorang
sejarawan yang berani mengungkapkan bahwa Colombus adalah bukan penemu Benua
Amerika yang sesungguhnya. Seorang sejarawan yaitu Howard Zinn, mengapa beliau
mengatakan seperti itu? Karena beliau memiliki bukti-bukti dalam karya bukunya
yang berjudul “A People’s
History of the United States” yaitu bahwa Colmbus hanyalah seseorang yang ingin pergi berlayar karena
ia berniat jahat untuk memperkosa para wanita, membunuh dan lainnya. Ini adalah
salah satu fakta yang di ungkapkan oleh Howard Zinn, sebenarnya apa tujuan
beliau untuk mengungkapkan fakta sejarah tentang Colombus? Tujuan
Zinn adalah untuk memberikan pandangan alternatif dan untuk membuat
pembaca menganggap secara kritis tentang "resmi" versi kisah serta
dugaan netral dari buku. Untuk menganggap bahwa para pembaca Zinn tidak
memahami dimana ia akan datang dari atau tidak dapat membaca pekerjaannya
secara kritis adalah menggurui. inilah beberapa catatan yang perlu kita tahu,
bukan hanya tentang Colombus tetapi tentang penulisnya juga yang menceritakan
bahwa Colombus bukan penemu benua biru yaitu Howard Zinn.
Selain itu, seperti biasanya Mr.Lala
memberikan materi kepada kita semua dengan judul yang baru dalam pertemuan
keenam ini “Strengthening
Thesis Statement: Another journey in understang
Columbus” yaitu terdapat kutipan yang
mencerahkan bagi mahasiswa ketika di pagi hari itu :
“Katanya, tugas mereka yang tercerahkan--kaum
literat--adalah meneroka ceruk ceruk 'baru' tempat pengetahuan dan
keterampilan yang mereka pungut, kumpulkan dan kuasai dalam perjalanan hidupnya
sebagai bagian sederhana dari cinta mereka pada pengetahuan dan pemberi
pengetahuan. Mereka yang hanya baru tahu teori ini dan itu dari 'suara-suara
penuh kuasa' di bidang yang mereka geluti, belumlah dapat dikatakan yang
tercerahkan--literat; mereka baru pada fase awal; peniru.
Meniru adalah bagian penting dari menemukan lalu menciptakan, dari memahami affordance dan meaning potential tanda tanda yang terserak, yang dibaca dengan teori ini dan itu. Yang berbahaya adalah ketika kita merasa sudah mendesiminasi, pun meneroka padang-padang baru tempat segala teori yang dipahami digunakan, padahal kita baru sampai pada tahap meniru. Lalu kita dengan pongahnya mengatakan 'ini salah itu tak benar", tanpa dasar yang 'tak bergetar' pada mereka yang berada di titik awal menjadi peniru. Kita merasa bahwa hapal saja teori ini dan itu, telah membuat kita menjadi bagian dari "Rejim kebenaran tak terbantahkan".
Begitu banyak yang harus dipelajari, dipahami lalu dimaknai; lebih banyak dari alasan menjadi sombong sebab apa yang baru kita sedikit ketahui.”
Meniru adalah bagian penting dari menemukan lalu menciptakan, dari memahami affordance dan meaning potential tanda tanda yang terserak, yang dibaca dengan teori ini dan itu. Yang berbahaya adalah ketika kita merasa sudah mendesiminasi, pun meneroka padang-padang baru tempat segala teori yang dipahami digunakan, padahal kita baru sampai pada tahap meniru. Lalu kita dengan pongahnya mengatakan 'ini salah itu tak benar", tanpa dasar yang 'tak bergetar' pada mereka yang berada di titik awal menjadi peniru. Kita merasa bahwa hapal saja teori ini dan itu, telah membuat kita menjadi bagian dari "Rejim kebenaran tak terbantahkan".
Begitu banyak yang harus dipelajari, dipahami lalu dimaknai; lebih banyak dari alasan menjadi sombong sebab apa yang baru kita sedikit ketahui.”
-Mr.Lala-
Ideologi adalah istilah kunci dalam sastra, budaya, dan studi.
Pemahaman saat ini istilah Ideologi berakar dalam tulisan-tulisan filsuf
Jerman Karl Marx dan Friedrich Engels. Menurut Fowler (tahun 1991) dan
Fairclough (tahun 1995), sedangkan fungsi
ideational merujuk kepada pengalaman para pembicara di dunia dan fenomena, yang
merupakan perwujudan fungsi interpersonal yang memasukkan para pembicara
sendiri sikap dan evaluasi tentang fenomena alam dalam pertanyaan, dan
membangun hubungan antara para pembicara dan para pendengar. Ini penting kepada
dua fungsi ini adalah fungsi tekstual. Ini adalah melalui tekstual fungsi
bahasa pembicara yang mampu menghasilkan teks yang dipahami oleh para
pendengar. Ini adalah fungsi yang memungkinkan menghubungkan wacana untuk
ko-teks dan con-teks dalam mana ia terjadi.
Van Dijk (tahun 1995 ) pada dasarnya mengesani wacana analisis sebagai ideologi
analisis, karena menurut dia "ideologi biasanya walaupun tidak eksklusif,
mengungkapkan dan dilahirkan di dalam wacana dan komunikasi, termasuk
non-verbal Hermeneutik pesan seperti gambar, foto dan film" (ms. 17).
Pendekatan-Nya untuk menganalisis ideologi memiliki tiga bagian:
analisis sosial, analisis kognitif, dan wacana analisis (tahun 1995, 30 ).
Sedangkan analisis
sosial berkaitan untuk mengkaji "secara keseluruhan struktur sosial,"
(konteks), wacana analisis terutama berbasis teks (sintaks, Lexicon, soal
semantik lokal, topik, berbentuk skematik struktur, dsb. ). Dalam pengertian ini, van Dijk pendekatan
menggabungkan dua pendekatan secara tradisional dalam media pendidikan dibahas
sebelumnya: interpretatif (teks) dan tradisi sosial (konteks berdasarkan), ke
dalam satu analytical framework untuk menganalisis media wacana. Namun, apa
yang jelas membedakan van Dijk
pendekatan lain dari pendekatan dalam CDA adalah ciri lain dari pendekatan-nya:
kognitif analisis.
Dalam pengertian ini, untuk van Dijk,
"ideologi ... adalah secara keseluruhan, abstrak mental sistem yang
mengatur ... sosial sikap bersama" (p.18).
Ideologi, oleh itu, "tidak langsung mempengaruhi pribadi kognitif
anggota grup" dalam perbuatan mereka dari pemahaman dari wacana di antara
tindakan lainnya dan interaksi (p.19 ).
Dia memanggil mental representasi dari individu selama sosial seperti
tindakan dan interaksi "model" .Untuk dia, "model mengontrol
bagaimana orang-orang bertindak, berbicara atau menulis, atau bagaimana mereka
memahami praktik sosial dari orang lain" (ms. 2).
Sangat penting di sini adalah bahawa, menurut van Dijk, mental representasi
"sering artikulasi bersama kami versus mereka dimensi, di mana para
pembicara di salah satu grup akan secara umum cenderung untuk menampilkan diri
atau kelompok sendiri dalam istilah positif, dan kelompok lain dalam istilah
negatif" (p.22).
Kutipan yang menarik menurut Mr.Lala dan harus di jaga ataupun dipelihara
dalam pikiran kita :
¡ Fowler (1996: 10): “Like the historian critical
linguist aims to understand the values which underpin social, economic,
and political formations, and diachronically, changes in values and changes
in formaitons.
¡ Fowler (1996: 12): “Ideology is of course both a
medium and an instrument of historical processes.”
¡ Ideology is omnipresent in every single text
(spoken, written, audio, visual or the combinations of all of them) (Fowler
1996)
¡ Text productions is never neutral! (Fairclough
1989; 1992; 1995; 2000; Lehtonen 2000)
¡ Literacy is NEVER neutral (Alwasilah 2001; 2012)
¡ Therefore, reading and writing is always
ideologically motivated
¡ Writing in college often takes the form of persuasion—convincing
others that you have an interesting, logical point of view on the subject you
are studying.
¡ Persuasion is a skill you practice regularly in your daily life.
¡ In college, course assignments often ask you to make a persuasive
case in writing.
Ideologi ini akan memberikan warna dalam writing dan ideologi adalah salah
satu cara untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Karena “reading and writing is alway ideologically motivated.” Disamping
itu, cara untuk memahami baca tulis ini dengan cara “Values”, yang memiliki dua
sets of building yaitu medium dan instrument.
Disini, kita
sedang menjajaki ceruk-ceruk baru dalam perjalanan mata kuliah Writing and
Composition, kita baru dalam tahapan meniru, lalu menemukan dan menciptakan
tulisan. Dari sinilah kita membutuhkan daya baca yang tinggi. Hanya orang-orang
literatlah yang menguasai affordance dan meaning potential. Seperti halnya,
kita masih dalam tahapan “Chrysalis” atau tahap-tahap perkembangan atau
pertumbuhan dimana untuk menjadi reader dan writer harus mempunyai daya baca
yang tinggi, ceruk-ceruk baru yang telah kita temukan adalah sebagai simbol
tahap awal untuk menuju ke tahap create hal-hal yang baru.
Ideologi ini adalah intisari 'kenyataan'. Konsepsi yang berbeda dari
ideologi adalah dirumuskan oleh Louis
Althusser. Althusser 'ideologi' tidak sebuah versi dari realitas, tetapi
suatu gambaran individu yang berhubungan dengan masyarakat. Kenyataannya,
kebenaran dan yang batil tidak aspek dari ideologi ini, tetapi ia adalah sebuah
organisasi menyatakan praktik yang membentuk perihal sosial. Ada suatu analogi
dengan sastra teks di sini, atau sekurang-kurangnya satu konsepsi sastra teks.
Sebagai Eagleton menjelaskan:
Salah Satu mungkin berkata bahwa ideologi. Kurang hal usul dari 'pseudo-usul'. Ia cukup sering muncul di permukaan
tatabahasa akan referensial (deskriptif dari negara urusan) sementara yang diam
'emotif' (ekspresif dari kenyataan hidup manusia dari mata pelajaran) atau
'conative' (diarahkan ke arah pencapaian dari efek tertentu). Jika demikian, maka ia akan tampak bahwa ada
semacam slipperiness atau sikap bermuka dua dibangun ke dalam bahasa ideologis,
dan bukannya dari jenis yang Immanuel Kant mengira bahwa ia telah ditemukan
dalam sifat estetika peradilan. Ideologi, Althusser klaim, 'mengungkapkan yang
akan, sebuah harapan atau nostalgia, dan bukannya menjelaskan kenyataan', yang
pada dasarnya adalah sebuah hal rasa takut dan mencela, reverencing dan caci
maki, semua yang kemudian kadang mendapat dikodekan ke dalam sebuah wacana yang
kelihatan seolah-olah ia menggambarkan cara sesuatu sebenarnya.(Eagleton tahun 1991: 19 ). Ideologi di
sini adalah sesuatu yang subjektif tergelincir ke dalam wacana dan berlagak
untuk menggambarkan kenyataan. Pada sebuah makro, sastra itu sendiri dapat
dilihat sebagai sebuah contoh dari 'ideologi'; pada tingkat mikro, teks sastra
dapat dilihat untuk berisi ideologi dalam cara yang sama seperti semua wacana.
Ideologi, kemudian, mungkin lebih luas tertanam dalam ideologi tertentu:
ideologi tertentu, misalnya, tertanam dalam makro-ideologi 'literatur'. Althusser
dirinya tidak membuat perbezaan antara ideologi ini, lebih memilih untuk
mengatur istilah 'ideologi' dalam oposisi global untuk 'ilmu pengetahuan';
tetapi mungkin akan bermanfaat dalam penggambaran sastra dan analisa teks.
Selanjutnya
pembahasan tentang buku Roger Fowler. Terdapat tiga representasi dari bahasa
yang merujuk kepada karya dari para cendekiawan yang komitmennya untuk bahasa
dan memang tidak dinafikan secara substansial, yaitu :
- Yang pertama adalah sikap yang bermasalah yang menganggap bahasa dalam literatur sebagai obyek.
- Kedua sikap tidak membantu untuk bahasa yang memperlakukan mereka sebagai medium melalui literatur yang akan ditransmisikan.
- Implicit apa yang telah dikatakan menurut Roger Fowler: "saya adalah keengganan untuk menerima satu andaian lebih lanjut tentang bahasa yang tersebar luas di stylistics dan kritik.
Jadi linguistik kritikus, seperti biasa atau Maha Mendengarlagi Maha
pembaca, tidak dapat hanya mengakui linguistik struktur dan konsultasi
pragmatie kompetensi-nya, menetapkan kepentingan. Pandangan yang lebih
realistis linguistik dari interaksi adalah proses yang kita teks ini sebagai
wacana, yang, sebagai sebuah kesatuan teks dan konteks -daripada sebagai
struktur dengan fungsi terpasang.
Friday, March 14, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
#Class Review 5
Penggagas Mutu
Critical Review
Literacy is the
use of socially-,
and historically-, and
culturally-situated practices of creating and interpreting meaning
through texts. It entails at least
a tacit awareness
of the relationships
between textual conventions and their
context of use
and, ideally, the
ability to reflect
critically on those
relationships. Because it is purpose-sensitive, literacy is dynamic – not static
– and variable
across and within
discourse communities and cultures. It draws on a wide range of
cognitive abilities, on knowledge of written
and spoken language,
on knowledge of
genres, and on
cultural knowledge. Kern
(2000)
Udara sejuk di pagi hari begitu
dirasakan kembali saat kaki ini memulai untuk perjalanan mencari ilmu. Tepatnya
pada hari Jum’at, 7 Maret 2014 di Kampus tercinta IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
Detik waktu terus berjalan melewati suka dan duka ketika memulai mata kuliah
“Writing and Composition 4”. Perjalanan ini begitu pelik dan berliku seperti
jalan yang penuh tikungan yang tiada hentinya. Satu titik dimana membutuhkan
kekuatan serta semangat yang tinggi untuk melewati berbagai cengkaman dalam
menjalani kehidupan yang lebih dewasa.
Friday, March 7, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
#Class Review 4
Pelopor Budaya Kelas
Cuaca di pagi hari,
begitu sejuk dan mendukung aktivitas terutama untuk seorang mahasiswa. Inilah
hari pertama, dimana memulai untuk mencari ilmu lebih awal dibandingkan dengan
mahasiswa lainnnya. Pukul 06.30, kaki mulai berjalan untuk memasuki gerbang
dimana memulai untuk meniti kehidupan yang lebih bermanfaat serta melatih
kedisiplinan sebagai mahasiswa maupun dosennya. Hal ini adalah salah satu untuk
membangun kualitas kampus serta lebih mengetahui betapa pentingnya kualitas kampus
ini, bukan hanya dari segi ilmu yang kita dapatkan tetapi juga membangun jiwa
karakter mahasiswa untuk lebih baik.
Atmosfir kelas
begitu mengharukan, ketika Mr. Lala menunjukkan sebuah kata-kata mutiara yang
beliau dapatkan dari dosennya, yaitu :
Thursday, March 6, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
Fakta yang Terselubung
Buku adalah jendela dunia, banyak
orang-orang yang mengatakannya. Dengan membaca buku kita bisa melihat keluar,
sesuatu yang baru atau pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di rumah
kita. Yang dimaksud rumah adalah pikiran kita saat ini. Sebagian orang
mengatakan bahwa dengan membaca sebuah buku berarti kita membuka cakrawala.
Dengan membaca buku juga kita menyelami dunia lain, yaitu sebuah dunia yang ada
di dalam pikiran orang lain. Sementara setiap orang memiliki dunia
masing-masing. Dengan membaca buku kita akan menyelami berbagai dunia orang
lain yang akan memberikan kita kebijaksanaan yang lebih mendalam dalam
menghadapi hidup. Seperti dalam buku Howard
Zinn yang berjudul, “Speaking Truth
to Power with Book.” Beliau mengatakan dalam bukunya bahwa buku bisa
mempengaruhi pembaca serta bisa merubah hidup seseorang dengan kesadarannya,
inilah yang akan menjadi efek pada dunia bahwa buku beropersi banyak cara untuk
mengubah kesadaran di masyarakat.
Saturday, March 1, 2014
Created By:
Ummi Kulsum
class review 3:
Metaforma
Literasi
Hujan begitu deras, ketika itu keadaan dan situasi di pagi hari sangat
tidak mendukung. Seiring berjalannya waktu, ku tetap bersemangat untuk
mengikuti mata kuliah “Writing and Composition 4” hingga usai pembelajaran.
Walaupun keadaan cuaca yang ekstrim ini, mata kuliah tersebut berjalan dengan
lancar. Serta walaupun ada halangan maupun rintangan untuk menjalaninya, hal
ini tidaklah menjadi beban pikiran yang berat. Inilah kehidupan yang ku jalani
demi menggapai suatu kesuksesan.
Thursday, February 27, 2014
Created By:
#Progress Test 1,
Ummi Kulsum
Critical Review:
Religious Harmony : Panglima menciptakan Keharmonisan,
Bangsa Membuka Jendela Dunia
Teringat dengan
sebuah Beatboxer, perpaduan musik yang berasal dari mulut manusia yang berbeda
sehingga menghasilkan musik yang seirama. Dari perbedaan itu bisa menghasilkan
suatu karya musik yang luar biasa dengan alunan nada yang begitu cepat tetapi
menghasilkan nada yang unik dan tidak berbeda jauh dengan alat musik yang
lainnya. Begitupun dengan bangsa kita yang berbeda budaya, suku, ras, bahasa,
agama ataupun kebiasaan tetapi dengan perbedaan itu, tidaklah menjadi suatu
perkara yang besar hingga merusak bangsa kita sendiri. Jika musik Beatbox bisa
menjadi satu dan menghasilkan karya musik yang unik, mengapa kita sebagai
makhluk hidup tidak menjadikan perbedaan itu menjadi satu kesatuan sehingga
bisa menghasilkan sebuah karya yang luar biasa? Bangsa kita cukup sulit untuk
mempersatukan sebuah perbedaan tersebut, untuk mempersatukannya hanyalah
kesadaran dalam benak, jiwa mapun raga kita. Untuk itu, seharusnya bangsa kita menyampingkan semua bentuk ego, vested interests (mengharapkan keuntungan
pribadi), dan kesombongan demi kemajuan sistem pendidikan. Bangsa kita juga
harus siap mengatasi semua rintangan, menghadapi semua resiko, dan berkorban,
demi kemajuan pendidikan. Misi utama bangsa ini adalah memberikan pendidikan
yang terbaik, dan menghantarkan bangsa kita ke masa depan yang lebih baik. “The
task of the leader,” kata Henry A.
Kissinger, “is to get his people from where they are to where they have not
been.”
Subscribe to:
Posts (Atom)