Friday, May 23, 2014

Papua Expedition


10th Class Review
                                                                                                                 On May, 12nd 2014
Papua Expedition
(Nani Fitriani)
Perjalanan masih terus berlanjut kita tidak berhenti disini saja, akan tetapi kita masih bergelut dalam argumentative essay. Apakah kita melepaskan Papua, dan apakah kita mempertahankan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Argumentative essay ini kita harus memberikan pendapat kita, disertai dengan alasan yang kuat dan harus deep research. Jumat, 9 Mei 2014. Mr. Lala kembali membimbing kami pukul 07.30 di kelas PBI-D, Mr. Lala pada kesempatan ini masih menjelaskan mengenai argumentative essay, serta menjelaskan bahwa dalam membuat argumentative essay harus ada “GIST” atau benang merah. Dalam sebuah text itu mengandung berbagai informasi. Dalam sebuah informasi yang kita dapat jangan mudah percaya begitu saja akan tetapi kita harus melihat dari beberapa sisi, karena setiap penulis itu mempunyai ideology tersendiri.

Menerima sebuah teks jangan menerima apa adanya akan tetapi kita harus menjadi pembaca yang kritis. Critical literacy yaitu yang mengajarkan listening, reading, speaking dan writing. Kita sebagai pembaca harus menjadi qualify reader, harus deep research ibartnya teks itu adalah intertexstuality. Dalam argumentative essay yaitu :
a.       Reasoning
Reasoming disini adalah kita dalam menulis argumentative essay memerlukan pemikiran atau penalaran, serta bukti bukan emosi(Not emotion), dalam mengambil sumber harus yang definitive atau yang sudah pasti tenntang isu-isu yang ada di Papua misalnya. Yang diangkat dalam argemntative essay harus yang deep research. Argumentative essay ini membahasa dua sisi antara pro dan kontra dari sebuah topic pembahasan, dan mengapa alsan yang kita angkat ini adalah alasan yang kuat mengenai pro atau kontra opini kita. Seperti topic yang sedang kita bahas kali ini, kita mendukung Papua untuk tetap masuk kedalam Indonesia atu tidak.

b.       Definite evidence
Menulis Argumentative Essay membutuhkan bukti-bukti yang mendalam seperti kita harus melihat beberapa sumber dan kita jangan mudah begitu saja dengan sumber yang kita dapat, akan tetapi kita harus melihat dari semua sisi, sumber itu harus ada bukti pasti yang dapat dipertanggung jawabkan. Kita lihat dalam Reasoning bahwa argumentative essay membahas kedua sisi (pro dan kontra), maka memerlukan penelitian kedua sisi topik secara menyeluruh harus deep research . Bahkan jika kita tahu sisi mana yang ingin diperdebatkan, penelitian ini memberikan ide-ide untuk counterarguments dan membantu keseimbangan tulisan dan menunjukkan kita sebuah  prasangka. Contohnya jika kita perdebatkan masalah Papua Barat yang harus disatukan lagi dengan Indonesia, kita harus mendukung bukti-bukti yang kuat supaya pembaca berada dipihak kita dan berada dalam prasangka yang sama. Dengan cara memulai penelitian, mengambil responden-responden dalam skala yang mecukupi, fakta-fakta, contoh, opini para ahli atau pengalaman pribadi. Pada akhirnya kita memulai dari history karena history is an asset and legacy.

c.       A working thesis
A Working bisa juga disebut dengan Embryo atau nutrisi. Salah satu yang ada dalam kertas Argumentative adalah mengembangkan tesis kerja. Menyatakan posisi kita pada masalah ini dan meringkas alasan utama argumen kita dalam satu kalimat. Body Paragraph kita harus menjelaskan alasan kita sepenuhnya, dalam thesis terdapat opini, reason (dalam satu kalimat).
Pertemua jumat kemarin Mr. Lala membagi kami dalam tiga kelompok, setiap kelompok terdiri dari sebelas orang. Setiap kelompok maju kedepan sambil membawa class review beserta outline di dalamnya. Kita berhadapan dengan Mr. Lala class review kita diperiksa masing-masing oleh Mr. Lala, kemudia Mr. Lala memeriksa outline kita mengani argumentative argumentative essay. Ini kesempatan outlione saya diperiksa, kemudia Mr. Lala meberikan critic pada outline saya, yaitu bahwa outline argumentative saya masih salah karena dalam introduction nakpak seperti descriptive essay, dan saya sadar betul, dan akan memperbaikinya lagi untuk mendapatkan teks argumentative essay lebih baik lagi dari sekarang.
Saya juga di critic mengenai di body paragraph karena alasan saya mempertahankan Papua karena ecology, geogris dan yang ketiga adalah natural resources, Mr. Lala menjelaskan bahwa yang menjadi alasan saya itu kurang kuat, dan harus mempunyai alsan yang konkrit dan harus deep research, dan pada akhirnya yang harus menjadi alasan yaitu history dan politic karena kedua nalsan itu ada keterkaitan antra yang satu dan yang lainnya, semua permasalahan bersumber dari history seperti halnya history of Papua. Krtikan dari beliau sangat membangun untuk mendapatkan hasil teks yang lebih baik lagi, dan saya yakin teks argumentative essay kedepannya saya akan lebih baik lagi.
Peristiwa Penting di Papua
Tahun
Peristiwa Penting
Sejak 1828
Irian Barat merupakan koloni dari Belanda
1949
Kedaulatan pindah ketangan Indonesia

Belanda mempersiapkan Papua untuk merdeka

Dialakukan pemilihan untuk West New Guinea Council, sebuah langkah penting menuju suatu pemerintahan sendiri

TRIKORA

Anggota dewan mengadakan KRP(Kongres Rakyat Papua) pertama. Mengahasilkan manifeso kemerdekaan(Manifeso itu mengadopsi bendera Bintang Fajar atau bendera Bintang Kejora sebagai symbol nasional, dan menyetujui nama Negara Papua Barat, menamakan rakyatnya Papua serta lagu kebangsaannya.

Simbol-simbol kedaulatan Papua Barat diresmikan dihadapkan Belanda. Diperingati sebagai hari Kemerdekaan Papua

Perjuangan bersenjata pecah antara Indonesia dan Belanda di pantai Irian

Perjanjian damai antara Indonesia(Subandrio) dan Belanda(JH Van Roijen) dengan mediator damainya Elsworth Bunker. Perjanjian ini d kenal dengan nama perjanjian New York Agreement(masa depan Papua Barat)

Dibawah perjanjian Belanda menyerahkan pemerintahan Irian ke UNTEA, eksekutif PBB

Berdirinya OPM

FREEPORT

PEPERA

Act for Choice(Tindakan Pilihan Bebas)

REFORMASI

KRP Ke-2 dilaksanakan menghasilkan penolakan atas isi dari PEPERA

Papua menerima otonomi khusus dari pemerintah Indonesia, namun ditolak oleh warga Papua

Peristiwa wasior(aksi masyarakat menuntut ganti rugi atas hak ulayat yang atau rampak olehperusahaan pemegang Hak pengusahaan hutan(HPH)

Konferensi perdamaian di selenggarakan oleh jaringan Papua damai menghasilkan serangkaian “ Indikator Papua Tanah Damai” dibidang politik, HAM, Ekonomi dan Lingkungan serta keamanan

KRP ke-3(Untuk membahas hak-hak dasar mereka dan berkhir dengan pernyataan bahwa Papua Barat telah merdeka sejak tahun 1961)

British Petroleum bergabung dengan Amoco membentuk BP Amoco

Pembangunan Kilang LNG oleh BP

Desa yang baru secara resmi dibuka karena pemukiman warga tergusur karena pabrik LNG yaitu di daerah sowai-wayuri dan simuna(Desa Tanah Merah)

Warga Papua protes karena fasilitas yang dulu di janjikan dan dulu di fasilitasi sekarang tidak lagi seperti air bersih, dan listrik, BP menang sendiri

Rakyat Papua mengungkap persoalan ganti rugi atas tanah yang dipakai oleh BP yang telah menelantarkan warga Papua, dampak tangguh BP terhadap masyarakat local.

Periode I: 1960 sampai 1969
Menurut beberapa korban dan saksi, periode ini ditandai dengan kekerasan saat bentrokan antara tentara Indonesia dan pasukan OPM, yang diikuti dengan serangan militer langsung terhadap warga sipil, serta penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan terhadap mereka yang dianggap menentang integrasi dengan Indonesia. Para saksi melaporkan terjadinya sejumlah tindakan kekerasan yang dilakukan aparat militer seperti penembakan, perkosaan, pemindahan paksa, serta perusakan dan pencurian harta benda. Berdasarkan pernyataan para korban terungkap bahwa operasi militer semakin intens menjelang Pepera dan masih terus berlangsung pada saat Pepera dilaksanakan pada Juli – Agustus 1969.
Di Manokwari, OPM yang baru dibentuk menyerang pos tentara Indonesia di Arfai pada 28 Juli 1965. Serangan itu menewaskan 18 aparat Indonesia dan 4 gerilyawan OPM. Insiden ini kemudian diikuti oleh serangkaian serangan lainnya di wilayah Manokwari dan Sorong. Sebagai reaksi atas berbagai serangan tersebut, tentara Indonesia melancarkan operasi militer dengan nama sandi Operasi Sadar yang dilakukan di beberapa daerah, antara lain, di Kebar, Saukorem, Prafi, dan Ransiki. Tentara memaksa penduduk untuk melapor setiap hari, membakar desa, dan melakukan serangan udara, yang salah satunya merusak atap gereja di Kebar.38 Tekanan terhadap penduduk sipil meningkat dalam bulan-bulan sebelum Pepera. Tentara dan polisi melakukan penangkapan massal di Manokwari terhadap mereka yang dicurigai memprotes Pepera atau memiliki hubungan dengan OPM.
Seorang korban ditahan pada tanggal 5 Agustus 1969 dan dibawa ke markas KOPAL (Komando Pasukan Angkatan Laut) di Manokwari. Interogator menanyainya malam itu sampai keesokan harinya tentang spanduk pro-kemerdekaan dan pemimpin lokal OPM. Dia dibawa ke Korem Manokwari dan dimasukkan dalam sel berukuran dua kali tiga meter yang dipenuhi kotoran manusia. Para tahanan terpaksa tidur berdiri di sel yang penuh sesak. Mereka diberi sedikit makanan selama tiga minggu, dan sering dipukuli dengan tangan atau popor senapan dan ditendang. Luka pada kaki kirinya masih terlihat ketika diwawancarai 40 tahun kemudian.
Seorang korban lainnya menjadi bagian dari kelompok besar tahanan di Manokwari pada tahun 1968. Beberapa orang dibebaskan kembali dengan segera, sementara dirinya yang tergabung dalam 108 korban dibangunkan jam 4.00 pagi, dibawa ke pelabuhan Manokwari, dan dinaikkan ke KM Brantas menuju Sorong untuk menaikkan tahanan lain. Kapal kemudian bertolak menuju Surabaya dan lalu Semarang. Di sana mereka dipenjara selama sekitar satu bulan. Beberapa tahanan dipaksa bekerja di perkebunan karet, bersama para tahanan peristiwa 1965. Dia dan banyak orang lain kembali ke Papua satu tahun kemudian, setelah Pepera selesai.
Mirip dengan apa yang terjadi di Manokwari, korban dan saksi di Sorong melaporkan bahwa dalam periode sebelum Pepera terjadi pelanggaran HAM. Pada tahun 1965, tentara gabungan dari Kodam Pattimura, Cenderawasih, Hasanuddin, dan Udayana melakukan operasi gabungan ke beberapa kampung untuk menangkap masyarakat yang mengibarkan bendera Bintang Kejora.
Seorang korban baru berumur 16 tahun ketika ia ditangkap di kampung Sasnek oleh tentara dari Kodam Pattimura. Pada saat penangkapan, tangannya diborgol lalu ia ditidurkan telentang di tanah sementara beberapa anggota tentara menginjak dan berdiri di atas tubuhnya. Dia dan beberapa tahanan lainnya kemudian dibawa ke Sorong dengan menggunakan kapal Angkatan Laut, untuk selanjutnya ditahan di tahanan Kodim (Komando Distrik Militer). Selama masa penahanan tersebut ia sering dipukul dengan popor senjata. Dia menceritakan pengalamannya:
Selama saya dalam tahanan, tentara masih saja memukul saya dengan kayu dan popor senjata secara bergantian di kepala. Selain itu, tentara memaksa saya untuk minum air kencing. Saya masih ingat nama anggota TNI yang menganiaya dan menyiksa saya di tahun itu, namanya Kopral Paulus.
Dia dibebaskan lima tahun kemudian, pada tahun 1970. Selain menceritakan kasus penahanan yang ia alami, ia juga menceritakan kekerasan seksual yang terjadi secara meluas terhadap perempuan dan anak perempuan:
Di kampung, tentara Pattimura dan Udayana lakukan operasi ke Kampung Ayamaru, Kampung Kambuaya, Kampung Jitmau, Kampung Aitinyo, tangkap orang-orang yang terlibat OPM (untuk) dibawa ke Teminabuan lalu masukan dalam tahanan… Perempuan di Kampung Ayamaru, personil Pattimura bawa kumpul di satu rumah lalu tiap malam bawa layani kebutuhan seks mereka. Tiap malam tentara suruh perempuan-perempuan dansa telanjang di depan mereka. Semua perempuan yang masih muda tentara tampung dalam satu rumah. Saya lihat tentara suruh perempuan-perempuan itu buka pakaian lalu jalan telanjang di depan mereka. Tentara jalan bawa mereka jadikan budak seks tiap malam. Saya lihat tapi tidak bisa tegur atau marah karena mereka pegang senjata. Orang-orang di Kampung Ayamaru juga tidak ada yang tegur, hanya lihat saja apa yang tentara lakukan terhadap anak-anak mereka. Selain malam hari, siang hari tentara bawa perempuan yang mereka suka jalan di tengah kampung tanpa berpakaian. Saya lihat tapi hanya bisa menangis dan tidak berani tegur atau marah.
Korban lain melaporkan bahwa pada tahun 1968 dia merupakan salah satu dari sekitar 50 orang dari desa-desa di selatan Sorong yang ditahan oleh Kodim. Mereka semua ditahan di ruang yang sama. Tentara menuduhnya sebagai OPM karena kakaknya menentang bergabung dengan Indonesia. Kejadian pada malam itu:
Mereka mengeluarkan saya dari ruang tahanan dalam keadaan kaki dan tangan diborgol. Saya diikat di pohon kasuari, lalu saya diinterogasi. Saya dipaksa untuk mengakui keberadaan orang-orang Papua yang ada di kampung-kampung yang menolak bergabung. Sesudah sebulan lebih ditahan, saya bersama tahanan yang lain dikirim ke Pulau Jawa.
Beberapa saksi lain menceritakan kasus penahanan terhadap diri mereka. Seorang korban mengaku ditahan bersama dengan 30 orang yang terdiri dari guru, kepala suku, pegawai, dan kalangan Papua terpelajar lainnya. Mereka diberi makan hanya sekali dalam sehari. Dia menceritakan bahwa kedua tangannya diborgol selama dalam penahanan di Teminabuan dari 1965 hingga dipindahkan ke LP Manokwari pada 1968.45 Korban lain yang ditahan di tahanan Kodim Sorong melaporkan banyak tahanan yang mati karena tidak makan, dipukul, dan ditembak.
Selain penangkapan massal, beberapa saksi menyebutkan ada warga sipil yang ditembak karena menentang integrasi dengan Indonesia. Selama periode ini, ditemukan pula banyak kasus di mana penduduk lari ke hutan-hutan untuk menghindari operasi militer untuk pencarian orang-orang yang diduga terlibat gerakan Papua Merdeka. Selama pelarian di hutan, mereka hanya bertahan dengan ubi, buah-buahan, dan air sungai.
Biak juga mengalami operasi militer. Seorang korban mengingat:
Bulan Maret 1963, saya mulai ditahan karena masalah politik karena saya kasih turun bendera merah putih. Dan ditahan di lembaga pemasyarakatan di Samofa Bak selama 3 bulan.
Sebagai reaksi terhadap bentrokan dengan OPM dan perlawanan tidak bersenjata yang dipimpin oleh kelompok guru yang diberi nama Gerakan Sampari, militer Indonesia melancarkan Operasi Sadar pada tahun 1968, menahan anggota gerakan Sampari. Salah satunya dialami oleh seorang guru yang juga anggota Sampari, yang ditahan pada tanggal 27 November 1967 karena menulis tentang anti-integrasi. Dia mengira akan dilepaskan dalam waktu cepat, tapi ternyata ditahan selama lebih dari empat bulan di kantor polisi di Biak. Pada tanggal 12 April 1968 dia dikirim dengan dua orang lainnya ke Manokwari menggunakan kapal laut.
Sementara Baldus Mofu, mantan anggota Dewan Neuw Guinea Raad, ditangkap pertama kali pada 1965. Saat itu ia bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak. Ia ditahan di Polisi Militer Angkatan Udara (biasa disebut POL AU) kemudian dipindahkan ke Markas Angkatan Laut untuk menjalani pemeriksaan. Ia dibebaskan tahun 1966, tetapi ditangkap lagi pada 1967. Ia dikurung di ‘kamar tikus’ di Markas Angkatan Laut hingga dibebaskan pada tahun 1970. Pada1973 ia ditangkap untuk ketiga kalinya. Kali ini ia ditahan di POM Biak, kemudian dipindahkan ke LP Biak dan dikirim ke Jayapura. Pada 1978 ia dikembalikan ke Biak. Penahanan terakhir terjadi pada tahun 1979. Namun selama menjalani masa penahanan di POM Biak, ia mengalami gangguan kesehatan sehingga dikeluarkan dengan status tahanan rumah dan harus menjalani wajib lapor sampai ia meninggal pada 8 Desember 1979. Seorang korban yang ditahan bersama dengan Baldus Mofu di markas POL AU menceritakan pengalamannya selama ditahan:
Tahun 1965 saya di tahan di Angkatan Laut. Waktu itu malam hari saya di ambil dari rumah di Asrama Pelayaran. Kami ditanya, dipukul, saya tinggal dalam satu ruang sel. Saya, Baldus Mofu, Noak Rumaropen, Sem Wambrauw, kami dianggap orang yang berbahaya, jadi tidak ditahan campur dengan yang lainnya. Pada jam 2 pagi saya dikasih bangun, saya dikasih 3 tablet besar warna putih ditumbuk hancur seperti gula dicampur dengan kopi hitam. Saya minum bukan rasa gula, rasa pahit. Sampai hari ini saya bodok (pikun).
Waktu di POL AU saya saksikan penyiksaan terhadap Baldus Mofu, ketika dia diperiksa oleh petugas. Dia disetrum dan dimasukkan dalam bak air yang kotor, ada ulat dan sisa-sisa makanan. Kalau saya disuruh lari dengan bawa gerobak penuh dengan kotoran. Ada satu petugas yang jaga, kalau saya jatuh nanti ditembak. Kalau dipukul pakai popor senjata, pakai kayu. Makanan yang dikasih ke kami itu dari sisa makanan mereka, makan dicampur dengan makanan yang kita mau makan.
Pada tahun 1965 juga, terdapat korban lain yang ditangkap oleh POL AU dan menjalani 6 bulan masa penahanan di Lembaga Pemasyarakatan bersama dengan 150 orang tahanan lainnya. Kekerasan yang mereka alami sangat berat:
Dan untuk pemeriksaan, saya tidak tahu mau cerita bagaimana…Kami disetrum dengan baterai (dinamo yang) diterap (dikayuh dengan kaki) Ada kabel hitam dan merah. Rasa sakitnya sampai ke dalam tulang-tulang. Rasanya rambut dicabut satu persatu. Komandan intelijen waktu itu pak Saneb, orangnya kejam sekali.
Sementara periksa, kaki meja yang bentuk bulat ditaruh di atas kuku kaki dan beberapa orang, empat atau lima, naik duduk di meja.
Selain penahanan sewenang-wenang terhadap mereka yang dicurigai terlibat dalam Gerakan Papua Merdeka dan Gerakan Sampari, di Biak para peneliti juga mengidentifikasi berbagai insiden penembakan dan pembunuhan, kerja paksa, kekerasan seksual, intimidasi dan teror, dan penghancuran harta benda. Kerabat anggota OPM, termasuk istri, juga menjadi sasaran kekerasan, termasuk pemerkosaan dan pembunuhan.
Seorang saksi menceritakan kejadian yang dialami Yunia Mambenar. Yunia ditangkap oleh tentara karena dicurigai sebagai OPM:
Para tentara ini menangkap Yunia dengan dokumen tentang OPM dan dibawa ke pos induk di Sorendiweri (Yunia dalam keadaan hamil). Yunia ditahan di Sorendiweri hingga ia dibawa ke Waforesyor untuk diperkosa lalu ditembak mati. Setelah ditembak mati ia diinjak di perutnya sehingga anak kecil dalam perut keluar. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1967, saat itu Yunia baru hamil anak pertamanya dalam kandungan 8 bulan. Ia ditahan di pos induk TNI di Sorendiweri selama satu minggu lebih lalu ditembak mati tanpa kami keluarga tahu. Yang menjadi saksi dan lapor kami yaitu ipar kami, Anius Manampaisem, dan adiknya. Selain Yunia Mambenar yang turut ditembak mati saat itu adalah Neles Rejauw yang ditembak mati tanpa dikubur oleh mereka. Sudah lama baru kami tahu tentang kematian ini. Kami saat itu takut jadi tidak mencari. Sudah sekian tahun baru saya pergi ke tempat itu tapi tidak ada tulang belulangnya karena mungkin dimakan binatang liar. Peristiwa ini sangat menyakitkan bagi kami.
Saksi lainnya menceritakan pembunuhan terhadap Ary Mnuwom pada 7 Juni 1967. Saat itu ada satu orang tentara menyerang Ary Mnuwom dan anak lelakinya dari belakang. Tembakan pertama meleset, namun tembakan kedua mengenai bagian punggung yang menyebabkan ia meninggal di tempat. Anak lelakinya lari ke arah Kampung Roidifu, sementara istri dan anak perempuannya ditangkap oleh tentara.
Pada periode ini, warga sipil juga tidak lepas dari kerja paksa untuk kepentingan militer sehingga banyak di antara mereka yang memilih lari (mengungsi) ke hutan. Seperti dituturkan oleh salah seorang saksi:
Tentara semakin banyak, kami semakin trauma. Mama juga semakin trauma karena kalau kami mengungsi ke kampung lain nanti dilapor. Tentara bawa mama dengan kita terus, tentara bawa ke Wardo, atau ke kota atau kembalikan untuk harus tetap tinggal di dalam Kampung. Jadi kerja orang tua kami selalu siap bawa operasi tentara masuk masuk hutan, walaupun perempuan. Tidur di hutan. Kami sudah tidak bisa bertahan di pantai dan masuk hutan. Masyarakat para pejuang disuruh oleh Melkianus Awom bikin pemukiman di hutan di dekat markas besar Perwomi, namanya Siorsadai.54
Saksi lainnya, yang juga bergabung dengan Melkianus Awom di hutan mengatakan, “Kami tidak bermaksud masuk atau lari ke hutan. Tapi Indonesia datang dengan senjata menakutkan. Kami, masyarakat lari masuk hutan, baru dia kejar dan bunuh di hutan.”55 Seorang perempuan yang lari ke Mandoriai karena takut mendengar kabar bahwa tentara akan datang ke Orkdori, menceritakan pengalamannya saat di pelarian sebagai berikut:
Waktu tentara operasi sampai di Nasifu tempat kami berkebun, karena rumah-rumah di kebun kosong, mereka bakar dan musnahkan semua kebun terus mereka memburu kami. Tentara mengejar sampai di Mandoriai tempat kami bersembunyi, mereka menyerang dan langsung menembak kami dalam rumah. Waktu kami ditembak pagi–pagi sekali, waktu itu kami semua masih dalam keadaan tidur. Tentara menembak, kami langsung kaget dan loncat dan lari. Saya kena tembak di tangan kiri. Waktu kami ditembak ada 6 orang yang kena tembak, 3 orang menderita luka tembak sampai meninggal. Setelah itu kami lari masuk hutan, selama kami bersembunyi di hutan tidak makan dan minum yang baik. Pada siang hari kami sembunyi di hutan dan malam hari kami datang tidur di pondok–pondok yang dibuat untuk berteduh. Di hutan kami makan daun-daun genemo dan daun lain untuk bisa bertahan.56
Peneliti juga menemukan berbagai kasus penghancuran harta benda milik warga. Seperti dituturkan seorang saksi:
Kamis, 3 Maret 1968, Kampung Wodu dibakar. Semua rumah masyarakat dan harta benda, gedung gereja, dan gedung sekolah semua dibakar. Hewan peliharaan ditembak dan dimusnahkan.
Berbeda dari wilayah lain, perlawanan bersenjata di Paniai dimotori oleh aparat pemerintah lokal yang ada saat itu, di bawah pimpinan Karel Gobay. Seperti yang terjadi pada tanggal 1 Mei 1963, warga merusak landasan pacu di Waghete dan Enarotali untuk menghentikan pendaratan pesawat Indonesia. Namun ternyata tentara Indonesia mengirimkan pasukan terjun payung yang menyebabkan banyak warga sipil menjadi korban.
Seorang korban yang masih kecil saat peristiwa itu terjadi menceritakan:
Waktu perang di Enaro, saya masih di sekolah dasar. Dan saat itu mau ujian. Dari Ekadide kami ke Dogouto, lalu ada yang bertanya kepada kami… “Kamu mau bikin apa??” “Kami mau ujian.” Lalu mereka, bilang, “Kamu tidak tahu kah??, sebentar ini mau perang.” Pagi harinya, kami dengar bunyi tembakan… Saya tertembak di ujung mata saya waktu saya lari bersama orang tua ke hutan, kami dikejar tentara.
Di Komopa, Pasir Putih, menurut beberapa saksi, tentara menembak seorang pemimpin adat Owaka Nawipa dan setidaknya menembak 13 lainnya. Seorang saksi ingat bahwa, “Dari Ekimani lalu saya ke Epouwi gali ubi. Ada 10 perempuan dan 5 laki-laki, datang dari Mauwa ke Epouwi. Setelah mereka tiba disitu (Epouwi), ada yang ditembak mati, oleh tentara. Dua orang yang ditembak mati adalah, Dogoudabi Dogomo dan Pekeybi Iyai.”59 Saksi lain melihat lima korban tewas pada bulan Mei sampai Juli tahun 1963 dan dia sendiri ditembak saat melarikan diri.60 Seorang saksi mengatakan “di kampung saya ada tiga orang yang korban akibat konflik tersebut... Mika Kayame, Isack Degei, dan Akapitake Gobay. Mika Kayame, ditikam lalu dibuang ke jurang namun tersangkut di pohon. Hidup selama 3 minggu, kemudian mati di atas pohon.”
Seorang saksi menceritakan peristiwa pemberontakan di Komopa, Pasir Putih pada tahun 1969 di mana ratusan aparat pemerintah terlibat dalam pemberontakan tersebut.
…peristiwa di Komopa, Pasir Putih, korbannya, Gibobi Gobay, Nawipatuma, Nawipa, Tenouye, Dumay, dan Bunay. Korban-korban itu ditembak pada waktu peristiwa di mana rakyat menuntut kebebasan… Waktu itu rakyat juga “keras” untuk meminta kebebasan, sedangkan tentara juga menganggap bahwa ini sudah wilayah Indonesia. Akibatnya terjadi pemberontakan waktu itu. Banyak orang yang mati. Saya tidak bisa sebut jumlah. Sedangkan saya punya kampung saja, saya lupa anak-anak yang mati.
Seorang saksi lain menggambarkan penyerangan terhadap warga sipil sebagai balasan atas penyerangan OPM yang dipimpin oleh Karel Gobay yang menyebabkan terbunuhnya 10 tentara. Ia menceritakan:
Kemudian mereka (TNI) masuk ke Moanemani, lalu perbaiki lapangan (landasan pesawat) sehingga pasukan dari Enaro dan Wagethe bisa mendarat. Pasukan diarahkan untuk serang rakyat – keluar malam, kepung pagi. Seperti di Tikidikebo, Dogimani. Terus siang harinya masyarakat juga (di)serang, sehingga banyak pertumpahan darah. Dari penyerangan itu mengakibatkan banyak jatuh korban, seperti di Ekemanida (di atas), terus lain di Tikidekebo (di bawah), lain di desa Mauwa, Ikebo, dan Iyadimi (perbatasan Deiyai dan Dogiyai). Adi Garis ditembak pada malam hari saat dia jaga malam. Dia dtembak karena pasukan melihat api rokoknya. Dia tidak tahu bahwa tentara ada datang. Dia adalah anggota Polisi Belanda. 63
Sementara itu, saksi lain mengemukakan alasan mengapa rakyat Papua mengambil tindakan untuk memerangi aparat militer Indonesia yang ditugaskan di sana:
Kami melakukan peperangan karena mereka bunuh babi, cabut kami punya pagar (pagar kebun dan rumah). Itu yang membuat kami melakukan peperangan. Padahal kami tidak membenci mereka. Masyarakat dari kampung-kampung yang lain juga datang perang. Selain itu, perang itu disebabkan karena anak-anak perempuan dan ibu-ibu diperkosa oleh ABRI. Bila ada yang tidak mau ikut, dipaksa dan dipukul oleh ABRI. Kejadian yang sama juga terjadi di Obano, Kebo, Paniai Timur, dan Komopa. Setelah perang, masyarakat kembali ke kampung masing-masing. Walaupun mereka sudah kembali, namun situasinya masih panas.
Menurut dia, setelah warga kembali ke kampung masing-masing, kepala suku dibawa ke Nabire mewakili masyarakat untuk mengikuti Pepera.
Periode II: 1969 sampai 1998
Pada periode setelah Pepera, operasi militer lebih difokuskan untuk menghancurkan sisa-sisa anggota OPM yang masih bergerilya di hutan-hutan. Orang Papua yang berada di perkotaan maupun di pedesaan diawasi secara ketat dan harus mendapat ijin dari tentara jika ingin berpergian. Korban yang pernah ditahan, dapat kembali ditahan tanpa alasan penahanan yang jelas.
Di Manokwari seorang saksi dulunya adalah orang Papua yang menjadi tentara di Batalyon 751 yang ditempatkan di Puay, Jayapura pada 1972. Dia menceritakan bahwa dirinya dan anggota tentara lainnya diperintahkan untuk menembak mati 10 penduduk setempat dan 10 warga lainnya dari Telaga Maya (Sentani, Jayapura). Tentara lainnya kemudian menutupi korban dengan daun dan kayu.
Operasi Tumpas dilakukan 1971-1989 terhadap OPM di Biak Barat dan Biak Utara. Para saksi melaporkan terjadinya penembakan dan pembunuhan, penyiksaan dan penganiayaan, perkosaan, dan penculikan. Seorang saksi menceritakan pembantaian di Kali Busdori pada tahun 1971 yang dilakukan oleh Kesatuan dari Kodam Udayana:
Pembantaian itu berawal mula dari penyerangan Benyamin Mambenar terhadap tiga anggota tentara yang dipotong dengan parang. Lalu seseorang diambil untuk menunjuk asal kampung Benyamin di Krisdori. Pasukan tiba di Krisdori, Fredinand Kmur dan Yulianus Kmur ditembak di tempat. Lalu yang sisa diperintahkan dua mayat ini dipikul ke Kali Busdori. Mereka yang pikul adalah Albertus Swom dan Yunus Manan. Tawanan yang lain diikat dan dibawa ke Kali
Busdori. Mereka disuruh untuk turun menggali liang satu persatu, kemudian ditembak di dalam liang mulai dari nomor 1 hingga 6, ditambah 2 orang jadi jumlah semua 8 mayat.66
Perempuan juga tidak lepas dari korban tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat militer. Seorang saksi menuturkan peristiwa pembunuhan dan perkosaan di Kali Simarsdo:
Saat itu kami diserang dipingir kali yang bernama Simarsdo. Waktu itu hari mulai sore sekitar jam 17.00,, saat itu cuaca hujan. Waktu penyerangan saya duduk di bawah bandar kayu dan waktu mereka tembak satu peluru kena tiga orang; peluru masuk di Dormina tembus masuk di kaki Bapak Amos dan kena di Beatriks. Saat itu kami semua loncat dan lari masing–masing cari jalan. Saya lari terus sembunyi dan melihat dengan mata, Nona Beatriks yang ditembak tapi tidak mati lalu dia diperkosa, sesudah itu dipukul sampai mati. Termasuk Bapa Amos juga ditembak di kaki masih hidup tapi dia dipotong dengan parang di kepala sehingga mati. Jadi saat itu tiga orang yang di tembak mati. Tulang belulang mereka masih ada di sana dan belum dikubur sampai saat ini.
Warga tidak dibedakan dengan kombatan dan mengalami serangan. Seorang saksi mengingat:
Tanggal 26 Februari 1986, kami mau persiapan untuk beribadah di geraja (didirikan di Markas Melkias Awom). Pada jam 5 pagi, tentara sudah kepung markas dan bunyi tembakan, rumah-rumah terbakar, kami lari ke hutan dan terpencar di hutan hampir 1 bulan. Pada saat kami lari, sekitar jam 9 sampai jam 10 pagi, ada 2 pesawat muncul dari arah darat (hutan) dan dari arah laut. Bom silang dari arah hutan dan laut. Markas (Siorsadai) itu terbakar sepanjang hari, kami lihat hanya asap saja. Setelah pengecekan dari Bapa Konsup (Melkianus Awom), ada satu korban meninggal, marganya Daundi, dari Kampung Orkdori karena tembakan peluru tentara yang operasi di darat (saat pengejaran). Bapak Konsup Melkianus Awom menghimbau kepada masyarakat yang ada di hutan untuk kembali ke kampung masing-masing karena pertahanan di hutan sudah tidak bisa mengatasi karena tentara sudah kuasai medan-medan. Kami keluar bersama keluarga pada Tahun 1987, diterima oleh Babinsa yang di Kampung Adadikam (Biak Barat).
Tindak kekerasan dan intimidasi juga banyak dialami oleh anggota keluarga OPM. Salah satunya dialami oleh keluarga seorang mantan tentara Yonif 751 Sentani. Pada 8 April 1984, ia keluar karena ingin berjuang untuk kemerdekaan Papua. Sejak itu, istri dan ketiga anaknya yang masih balita dikenai wajib lapor setiap hari. Anak pertamanya meninggal di tahun 1984. Menyusul pada 1985, anak keduanya. Pada 1985 istri dan anak bungsunya pulang ke Biak.
Pada 1987, dia dan sepuluh anak buahnya menuju Biak dan mencari keluarganya ke kampungnya di Swaipak. Kedatangannya membuat kampung itu dikepung tentara, menyusul insiden baku tembak antara tentara dan kelompoknya di Yenbepioper. Penduduk satu kampung itu disuruh turun ke pantai dan mengangkat tangan di kepala. Beruntung Dandim datang dan melarang masyarakat untuk ditembak.
Setelah itu ayahnya diinterogasi oleh Dandim dan ditampar, rumah mereka diobrak-abrik, 3 tas berisi pakaian mereka dibawa oleh tentara. Karena takut, istrinya mengikuti suaminya ke hutan dan menitipkan anak mereka di kampung. Setelah seminggu di hutan, dia keluar bersama anak buahnya. Istrinya mendengar berita bahwa suaminya meninggal dalam baku tembak pada keesokan harinya. Ia juga mendengar bahwa kepala suaminya dipotong dan dibawa ke Biak. Pada Pameran Pembangunan Biak pada 1987, potongan kepalanya ditaruh di dalam kaca dan ditutup kain putih dalam ruang khusus di stand TNI dan akan dibuka jika ada pengunjung yang ingin melihat. Sang istri sendiri menyerah dan keluar dari hutan pada waktu operasi Rabene (Rakyat Bela Negara) dan setelahnya sering mendapatkan diskriminasi dari aparat kampungnya jika ada penyaluran bantuan dari pemerintah karena dianggap telah membuat kacau kampung mereka.
Seorang saksi mengatakan bahwa orang tua Soleman, yang menjadi pengikut Melkias Awom, disiksa sebelum ditahan di Kodim Biak Numfor dan diestrum dengan tegangan listrik oleh tentara pada tahun 1993. Tentara menuduh ayah Soleman, yaitu Alfius Daundi, menyuruh anaknya pergi ke hutan untuk ikut Melkias Awom, sehingga mereka setiap hari menyuruh orang tua Soleman untuk mencari Soleman di hutan. Melkias Awom mendengar kabar tersebut dan bermaksud mengantar Soleman kepada orang tuanya ke kampung Napdori. Di kampung itu mereka berdua diserang dan Soleman ditembak mati oleh TNI dari Kodam 17 Trikora, Batalyon 753-752. Setelah ditembak, tentara memotong kepala dan tangan Soleman, lalu potongan kepalanya dibawa keluar dan dipertontonkan dari kampung ke kampung di Biak Barat. Sementara ayahnya (Alfius Daundi) ditahan di Kodim Biak Numfor dan diestrum dengan tegangan listrik.
Sama seperti di Biak, banyak pelanggaran HAM selama periode ini di Paniai terkait dengan operasi militer terhadap kelompok OPM lokal. Pada 1980an, operasi militer menargetkan Tadius Yogi dan kelompoknya. Sejumlah saksi dan korban menjelaskan banyak warga sipil yang ditahan, dikejar, dan disiksa, gereja dan rumah dibom dari udara dan dibakar, perempuan diperkosa, dan anak-anak dipaksa bekerja sebagai pembawa barang.
Seorang perempuan menceritakan pengalamannya saat ia berusia 12 tahun:
Ada tiga pesawat pemburu datang. Pesawat pemburu yang pertama, turunkan gernat (bom), dari pesawat di Ipakiye – ditengah-tengah geraja KINGMI (Kemah Injil). Pemburu yang kedua, membuang gernat, dan jatuh ditengah-tengah OPM, di Etendini. Pada waktu itu, OPM, bubar. Lalu tentara campuran (gabungan), datang ke Madi, dan masuk ke rumah Pesta Adat, kemudian membakarnya dengan korek api. Dan mereka juga membakar rumah-rumah rakyat ... tentara menangkap serta mencurigai masyarakat, di kampung-kampung, yang sedang bekerja di lapangan (kebun), bila tidak menemukan Yogi. Bahkan rakyat yang tidak cukur kumis, yang tidak mandi, dan yang tidak berpakaian ditangkap oleh ABRI, lalu ditembak, dipukul, dan dipenjarakan. Tanpa salah, rakyat diperlakukan seperti itu.
Saksi ini juga, yang berusia 30 tahun saat tinggal di Moanemani, Kabupaten Dogiyai pada tahun 1998, ingat bagaimana tentara memburu Tadius. Mereka memaksa 20 anak SMP untuk bekerja sebagai porter dari Moanemani ke Obano pulang pergi tanpa dibayar:
Kemudian, hampir seluruh masyarakat di sebelah ini ... masyarakat dipaksa untuk cari Tadius Yogi. Tentara menganggap bahwa kampung ini adalah, tempat persinggahan Tadius Yogi. Sehinggga selalu jadi korban – diancam terus. Kampung-kampung yang selalu diancam adalah Powouda, kampung Nuwa, Ugapuga, Yotapuga, Obayo, Puga 1 dan Puga 2, jadi korban waktu itu.
Saksi lain yang berusia 11 tahun pada saat kejadian tahun 1977, mengingat:
Saya ditangkap oleh tentara Indonesia di Debei. Satu tahun saya ditahan. Enam bulan di dalam tahanan, dan enam bulan tahanan luar. Banyak pukulan yang saya terima dan tidak di kasih makan selama tiga malam. malam keempat, mereka kasih makan nasi yang busuk-busuk dengan garam satu bungkus mereka campur dengan nasi.
Seorang saksi melaporkan bahwa Kopassus membawa perempuan ke Camp Idakebo dan kemudian diperkosa. Sumber yang sama ingat bahwa di desa Madi, Tuguwai, Kecamatan Komopa, Zipur 9 sedang melakukan operasi:
Dalam suatu operasi, tentara lewat di pinggir kebun. Saat itu ada dua ibu, dan satu laki-laki, sedang berkebun. Laki-laki (Kudiyai) itu dibunuh/ditembak oleh TNI. Lalu perempuan dua itu, diperkosa di situ.74
Sementara saksi lain menuturkan:
Ada tiga perempuan dari desa Timida, sebelah desa Madi. Di pinggir kali Kogeye, tentara tangkap ketiganya, lalu diperkosa di situ. Kejadian itu saya lihat bersama-sama dengan saya punya mama. Kami dua lihat Zipur 9 (satu pos) dan Zipur 3 (satu pos). Zipur yang perkosa.
Tindakan kekerasan berupa penyiksaan juga marak terjadi pada periode ini. Seorang saksi menceritakan kembali apa yang terjadi kepada korban bernama Ileuda Tobay:
Dia ditanya sambil diikat. Dia berpakaian cawat – koteka. Tentara pukul dia punya koteka lalu patah. Di dalam koteka itu ada satu penggal kertas. Mereka lihat kertas tersebut, ternyata, ada nomor, tandatagan, cap, sudah ada di atas kertas tsb. Setelah itu mereka buka tali, lalu pakai borgol… borgol dengan tangan ke belakang, lalu dia dipukul di perut dari desa Papato, - dipukul sepanjang jalan sampai di desa Madi. Kemudian dia diikat pada besi, dan dipukul dimuka, sampai keluar darah dari hidung. Dia tinggal selama tiga malam di desa Madi. Malam yang keempat, mereka bawa ke Enaro. Nokennya diisi batu besar, lalu digantung pada lehernya. Mereka bawa sampai di pos mereka (sekarang rumah wakil bupati). Di situ mereka ambil daging betis, daging paha, daging tangan, dengan pisau. Setelah satu malam, kaki tangannya diikat, pada besi-besi. saat itu ada besi yang sudah dipanaskan/dibakar di api sampai merah, lalu mereka masukan besi panas tersebut dari pantat hingga keluar dimulut. Saat itu pun, dia meninggal.
Ia juga menjelaskan kejadian lain:
Ada tiga masyarakat yang potong babi di desa Madi, Debeboutuma Mote (25), Eniatuma Mote (25), dan M Yogi (30). Harga potongan babi, dijual 200.000 rupiah, kepada Zipur 9. Mereka (Zipur 9), tawar dengan harga, 25.000 atau 50.000, namun ketiganya tidak mau mengambil uang, tetapi tentara memaksa mereka untuk mengambil uang tersebut. Ketiganya tetap tidak mau mengambil uang dan bertahan dengan harga 200.000, karena menurut mereka bertiga, babinya sangat besar. Kemudian mereka bermaksud jual ke Enaro. Sebelum mereka jalan, tentara, bilang tunggu dulu, kami tulis, dan kamu serahkan ke tentara yang di Enaro... Mereka tunggu tentara menulis surat. (Di dalam surat itu, ditulis “Babi itu kamu ambil, lalu tiga orang itu, kamu bunuh”). Lalu sesampainya di Enaro, mereka sendiri bawa surat itu ke tentara, dengan senang sekali… karena, mereka tidak tahu isinya. Setelah baca surat, tentara, ambil babi lalu taruh di rumahnya tanpa bayar. Mereka bertiga, bilang, bapa bayar… lalu mereka ditempeleng di pipi kiri dan kanan. Karena ketakutan mereka lari sampai di kali, mereka dibunuh – ditembak mati.
Periode III: 1998, masa reformasi dan sesudahnya
Dengan jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, tekanan untuk melakukan perubahan di Papua maakin meningkat. Namun, gerakan sipil yang dilakukan oleh mahasiswa dan kelompok politik untuk menunjukkan keinginan mereka untuk merdeka justru dihadapi dengan kekerasan.
Pada 2-6 Juli 1998, pasukan keamanan menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi di menara air di belakang Puskesmas Biak, menembaki demonstran, menggiring mereka ke Pelabuhan Biak, dan kemudian menginterograsi. Beberapa korban meninggal atau hilang. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Biak Berdarah.
Seorang korban yang juga ajudan Filep Karma bertugas menjaga pintu tower. Belakangan Filep Karma dan beberapa orang lainnya ditangkap dan divonis melakukan makar. Mereka dihukum penjara selama sepuluh sampai lima belas tahun.78 Ia menceritakan kejadian yang dialaminya:
Mobil trek datang dan kami 12 orang dipisah. Salah satu dari kami, Kapela, mati dalam sel. Kami ditahan dan diperiksa oleh intel-intel ... Saya disidang selama 3 bulan. Hukuman 3 tahun. Ada info, tapol napol dibebaskan oleh Gus Dur. Hari ini palu jatuh, besok(nya) kita dibebaskan. Saya, Karma, dan dua orang lagi masa sidang dipisah-pisahkan. Kami dapat pengacara, tapi dari polisi, saya tidak kenal. Ada grasi dari presiden. Saya bebas murni. Kita bebas tapi kalau kita jalan takut intelijen, karena kita ini kasus Papua merdeka jadi kita jalan takut-takut.
Sementara korban lain yang juga ikut demonstrasi di menara air menceritakan:
Saya ditendang dari belakang kepala, karena cukup keras saya hilang kesadaran, saya disiksa tetapi saya tidak tahu,,, Saya diseret dan merasakan siksaan ... Lalu kami dibawa ke Angkatan Laut. Waktu di Angkatan Laut kami diangkat ke satu ruangan. Kami dijejer sekitar 14 orang, yang hidup 4 orang, terakhir satu orang yang mati di AL. Bapak Wilhemus Rumpaidus, kena tembak. Sempat saya duduk melihat dia sampai dia menghembuskan nafas terakhir, maut jemput dia … Kemudian masuk lagi TNI AL dan mengatakan yang hidup ini masuk mobil. Saya sempat ingat, Rumsowek dan ada dua orang laki-laki harus digotong, kita disuruh naik. Posisi tangan tetap terikat. Saya lompat-lompat naik ke mobil. Dua teman naik di mobil Angkatan Laut. Tentara di dalam mobil kokang senjata dan bilang ko coba-coba lari sa tembak mati. Kita menuju kampung baru tapi masyarakat palang, jadi kita diserahkan ke rumah sakit. Perawatannya standar saja, padahal kami mengalami penyiksaan yang sangat brutal tapi waktu sampai ke RS hanya diberi antibiotik biasa dan tidak ada pemeriksaan yang mendalam.
Korban lainnya juga menceritakan tindak kekerasan oleh aparat:
Kami semua pada saat itu dipukul di perumahan bulat di rumah warga. Ada rumah-rumah yang didobrak dan ditembaki. Saya dipukul oleh anggota Brimob Kafiar pangkat Sersan Kepala. Saya dipukul dengan popor senjata. Saya dikerumuni oleh Brimob ada 15 orang, saya dipukul dan saya jatuh. Dengan kekuatan sisa yang ada saya lari di jalan raya menuju Pompa Bensin, tapi ada satu regu Brimob yang hadang kami. Saya dipukul lagi dengan popor senjata. Ada tembakan dan banyak korban, tapi saya tidak sempat perhatikan. Saya sudah tidak bisa lari. Pada saat itu pasukan TNI/Polri sudah buat bentuk seperti leter U untuk serang kami…Kami 102 orang dikumpul di pelabuhan dan disuruh minum air kolam dan nasi basi. Sampai jam 6 sore kami dibawa ke Pelabuhan. Dari 102 orang, kami dibawa ke Kepolisian (Polres Biak). Sampai di polisi kami dipukul lagi, disuruh buka baju semua dan kami dihukum. Ada sebagian orang yang ditahan juga di Angkatan Laut, di Kodim.81
Hingga tahun 1998, di Paniai tentara menggelar operasi pengejaran terhadap anggota kelompok Tadius Yogi. Seorang saksi mengatakan:
Waktu saya sebagai Kepala Wilayah/Kepala Distrik, saat itu tentara datang. tentara itu sembarang – mereka gertak sama masyarakat. Yang tidak masuk dalam anggota Yogi juga, mereka tangkap sembarang. Masyarakat ketakutan, karena mereka dicurigai anggota kelompok Tadius Yogi. Ada satu orang perempuan yang diperkosa tapi saya lupa namanya. Ada juga yang dibawa malam-malam ke Kamp Idakebo oleh Kopassus, di sana diperkosa, tapi saya lupa namanya juga, karena waktu itu, saya tidak ambil data. Hanya saya lihat dan saya tahu.
Saksi lain menggambarkan situasi di Kabupaten Dogiyai pada saat itu. Di beberapa kampung seperti Powouda, Nuwa, Ugapuga, Yotapuga, Obayo, Puga 1, dan Puga 2, Kopassus melakukan tekanan terhadap masyarakat karena kampung-kampung tersebut dianggap sebagai tempat persinggahan Tadius Yogi. Mereka juga melakukan hal-hal yang meresahkan masyarakat, antara lain mencuri ternak warga, mempekerjakan anak sekolah sebagai tukang angkat barang tanpa dibayar, dan sebagainya.83
Para korban yang ditemui peneliti di lapangan masih mengalami ketakutan dan trauma. Beberapa luka masih membekas, bahkan peluru masih bersarang di tubuh mereka. Banyak dari mereka tidak pernah menceritakan kisah mereka sebelumnya.
Salah seorang korban menjelaskan betapa berharganya dirinya terlibat dalam pengumpulan kesaksian, seberapa pun terbatasnya, “Saya merasa lega bisa menceritakan apa yang selama ini menjadi beban saya kepada ELSHAM Papua. Selama ini saya tidak pernah cerita kepada siapapun dan saya rasa sudah cukup buat saya, saya merasa lega sekali.”84
Korban lain menjelaskan bahwa sebagian besar pelanggaran hak asasi manusia tidak pernah diucapkan oleh korban atau diakui oleh pemerintah:
Masalah-masalah ini, yang kita alami terpendam lama. Tidak pernah terungkap. Sehingga hal-hal ini terungkap itu, supaya jadi fakta, bukti sejarah bahwa kami ini pernah jadi korban dari sejarah ini. Harapan ke depan bapa dulu punya harapan begitu. Dan akhirnya dari Elsham Papua ini, datang untuk ambil data mungkin ini bisa dijadikan tulisan yang bermanfaat untuk orang Papua… Supaya pemerintah buka mata, betapa dari tahun 1963 sampai sekarang, pelanggaran HAM di Papua ini, luar biasa bahkan di luar batas-batas kemanusiaan. Memang banyak orang yang jadi korban, tapi banyak yang tidak mau ungkapkan itu. Diam-diam saja, termasuk korban perkosaan.
Rakyat Papua sudah bosan dengan pelanggaran HAM yang ada di sana, dengan adanya pemberontakan tertsebut dan dulu hingga sekarang terus mengalami kekerasan dan sampai akhirnya pada tanggal 27 April 2014 resmi kantor OPM di Australia, yakin bahwa rakyat Papua sudah diiming-imingi oleh Negara pro OPM yang ada maksud tertentu dibalik mendukungnya kemerdakaan Papua.
Dapat dismpullkan bahwa Negara lain ikut berpartisipasi mendukung OPM yaitu seperti Amerika dan Australia membiayai semua financial di balik OPM. Yang bermaskud untuk menguasai wilayah Papua yang mengandung banyak sumber daya alam seperti kayu, tembaga, emas dan masih banyak lagi yang lainnya. Seperti yang sudah dialami rakyat Papua pada tahun 2003, yaitu warga Papua dialihkan tempat tinggalnya ayu digusur karena ada pembagunan kilang baru oleh BP, yang menjanjikan akan memfasilitasi semua kebutuhan seperti sumber air dan listrik dan faktanya hanya berjalan satu tahun kemudia rakyat Papua dilupakan kembali setelah mereka merebut tanah Merah milik rakyat Papua. Papua dimasa depan semoga jaya kembali dan tetap ikut kedalam Indonesia, dan semoga tidak ada konflik lagi Dan tidak ada pelanggaran HAM lagi ditanah surge Indoensia.
Comments
0 Comments

0 Comments:

Post a Comment